IslamKita
Home » Tokoh Islam » Ahmad bin Hanbal: Kisah Perjuangan Melawan Pemimpin Dzalim

Ahmad bin Hanbal: Kisah Perjuangan Melawan Pemimpin Dzalim

Ahmad bin Hanbal atau yang biasa dikenal sebagai Imam Hambali adalah seorang ulama mahzab yang terkenal akan ilmunya yang luas. Ia lahir di Baghdad pada tahun 164 Hijriah/780 Masehi. Dia memiliki garis keturunan Arab murni. Kedua orang tuanya berasal dari suku Shaybaan. Ayahnya meninggal ketika dia masih bayi. Ketika Ahmad Hanbali menginjak usia 15 tahun, dia mulai mempelajari hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

ahmad bin hanbal

Ahmad bin Hanbal banyak belajar dari ulama besar di zamannya. Dia melakukan perjalanan ke banyak kota, seperti: Kufah dan Basrah di Irak, Mekah dan Madinah di Arab, hingga ke Yaman dan Suriah. Imam Hambali memiliki kompetensi besar dalam ilmu agama hingga Imam Asy-Syafi’i berkata, “Saya meninggalkan Baghdad dan tidak meninggalkan orang yang lebih berpengetahuan dibanding Hanbali.”

Perjuangan Melawan Kesesatan

Masalah besar yang paling sering diceritakan mengenai kisah hidup Ahmad bin Hanbal adalah ketika dia berjuang melawan fitnah kesesatan dari khalifah Al Ma’mun. Di Baghdad terdapat ajaran Mu’tazilah. Ajaran ini menganggap bahwa akal manusia lebih baik dibandingkan tradisi kenabian. Penganut Mu’tazilah cenderung menginterpretasikan ayat-ayat Al Quran secara bebas dibanding kebanyakan umat muslim. Salah satu ajaran yang menyesatkan adalah mereka menganggap bahwa Al Quran adalah mahluk.

Sejak khalifah Ar Rasyid wafat dan digantikan oleh Al Ma’mun ajaran yang penuh kebid’ahannya ini berhasil menjadi ajaran resmi negara. Al Ma’mun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Quran adalah mahluk, terutama para ulamanya. Ajaran sesat ini diumumkan secara resmi oleh penguasa pada tahun 827 Masehi. Ajaran ini mengganti pemahaman yang menganggap Al Quran adalah firman Allah dan bersifat abadi.

Barangsiapa yang tidak mau mengakui ajaran Mu’tazilah akan dijatuhi siksaan yang pedih. Bagi siapapun yang menolak ajaran ini maka dia akan mendapat cambukan, pukulan, dan dikurang dalam penjara. Imam bin Hanbal mempertaruhkan nyawanya dengan menolak ajaran tersebut. Dia kemudian dirantai, dipukuli, dan dipenjara.

imam ahmad bin hanbal

Karena beratnya siksaan tersebut, ada beberapa ulama yang akhirnya mengucapkan apa yang diminta oleh Al Ma’mun meski itu cuma sekedar di lisan saja. Banyak yang menyarankan Ahmad bin Hanbal untuk mengikuti dan menyembunyikan keyakinan aslinya agar selamat dari siksaan. Akan tetapi, Imam Hanbali menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits Rasulullah, “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab bin Arats, ada yang digergaji kepalanya namun itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya.” Lalu dia menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja.”

Ahmad bin Hanbal dan Keteguhan Hatinya

Ahmad bin Hanbal diperintah untuk menghadapi khalifah baru yaitu Al Mu’tasim. Dia diadili selama 3 hari dan pada hari ke-3 terjadilah konfrensi pribadi antara khalifah dengan Ahmad bin Hanbal. Ia meminta Ibn Hanbal untuk mengalah sedikit saja agar dia bisa memberinya kebebasan. Namun Imam Hambali tetap dalam jawaban yang sama. Dia akan mengalah ketika diberi beberapa bukti untuk mengubah keyakinan yang berasal dari Al Quran dan tradisi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Karena sudah kehilangan kesabaran, akhirnya khalifah Al Mu’tasim memerintahkan agar Imam bin Hanbal dibawa pergi dan dicambuk. Selama dicambuk, Al Mu’tasim terus berusaha mendapat pengakuan Hanbal namun tidak berhasil. Keimanan Imam Hambali yang tidak tergoyahkan mempengaruhi sang khalifah.

Akan tetapi para penasihatnya mengingatkan jika ia menghentikan hukuman tersebut nanti dia dituduh telah menentang doktrin ajaran Mu’tazilah dan pendahulunya, Al Ma’mun. Mereka khawatir hal itu akan dianggap sebagai kemenangan Ahmad bin Hanbal.

Hukuman pada Ibn Hanbal harus ditunda karena amarah rakyat yang menggunung di luar istana telah bersiap untuk menyerang khalifah. Setelah bebas, Ahmad bin Hanbal dilaporkan telah dicambuk hingga 150 kali. Bekas luka cambuknya masih tetap ada sampai akhir hayatnya.

Dilindungi dan Dicintai Oleh Umat Muslim Baghdad

Di bawah khalifah yang baru, Al Waathiq Ibn Hanbal tetap mendapat rintangan. Beberapa pihak kerajaan saat itu berusaha membujuk Al Waathiq untuk menganiaya Ahmad bin Hanbal. Namun sepertinya khalifah yang baru ikut terpengaruh oleh pendahulunya. Ia tidak berani menyiksa seorang pria yang populer di kalangan masyarakat dan dianggap sebagai orang paling berpengetahuan pada masanya.

Ahmad bin Hanbal terlibat dalam masa-masa kelam bagi umat muslim di Baghdad. Setelah masa ujian yang berat berakhir, dia mendapat banyak sanjungan dari orang-orang muslim di Baghdad. Dia dipuji karena mampu mempertahankan posisinya dalam menghadapi rintangan, serta menyelamatkan orang muslim dari kepercayaan yang menyesatkan.

Wafatnya Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad bin Hanbal menderita sakit keras pada tahun 241 Hijriah. Saat itu ia berusia 77 tahun. Ia sakit selama 9 hari. Saat sakitnya mulai parah dan banyak orang mengetahuinya, banyak orang kemudian datang berbondong-bondong dari siang hingga malam untuk menjenguk.

Saat penyakitnya makin parah, dia meminta keluarganya untuk membantunya berwudhu. Setelah wudhu, Imam bin Hanbal berzikir dan meminta keluarganya menyela-nyela jarinya. Beliau meninggal dunia pada hari Jumat 12 Rabiul Awal tahun 241 Hijriah. Beliau dimakamkan di pemakaman Al Harb. Orang-orang yang menghadiri prosesi pemakaman Imam Hambali diperkirakan mencapai lebih 800.000 orang.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.