IslamKita
Home » Tokoh Islam » Al Biruni: Tulus Mencintai Ilmu hingga Akhir Hayatnya

Al Biruni: Tulus Mencintai Ilmu hingga Akhir Hayatnya

Al Biruni adalah tokoh Islam yang mencerminkan salah satu sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu, “Mencari Ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” Dia memiliki nama lengkap Abu Raihan Al Biruni. Ia lahir di Khawarzmi (Uzbekistan) pada tahun 362 Hijriah.

al biruni

Dia mempelajari ilmu hukum Islam dan bahasa Arab selain bahasa Persia sebagai bahasa sehari-harinya. Selain itu, dia juga banyak mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dari berbagai sumber. Ia memiliki kontribusi besar pada dunia pendidikan Islam kepada banyak orang.

Pandangan Al Biruni Pada Ilmu Pengetahuan

Sebagai seorang ilmuwan sejati, Al Biruni memiliki pandangan bahwa apapun subjek ilmu yang akan dipelajari, harus memenuhi syarat berikut ini:

  1. Memanfaatkan setiap sumber terkait yang ada dalam bentuk aslinya
  2. Menyampaikan informasi yang diperoleh kepada pihak eksternal demi penelitian yang objektif
  3. Bersifat empiris, yaitu menyelidiki subjek melalui observasi langsung dan eksperimen.

Dengan pedoman 3 syarat di atas, Biruni terus memaksimalkan pengetahuannya dengan belajar banyak bahasa. Selain belajar bahasa Arab dan Persia, dia juga mempelajari bahasa Yunani, Syiria, dan Sansekerta. Bahasa tersebut dia gunakan untuk meningkatkan pengetahuan dirinya, serta agar bermanfaat untuk banyak umat manusia.

Kontribusi dalam Ilmu Pengetahuan

Kontribusi Al Biruni dalam dunia ilmu pengetahuan meliputi: ilmu astronomi, matematika, geologi, geografi, fisika, dan sejarah. Dalam dunia astronomi, Biruni menemukan 7 metode berbeda untuk menemukan arah Utara dan Selatan. Ia juga menggunakan perhitungan matematika untuk menentukan waktu pergantian musim secara tepat. Ia juga menulis tentang gerhana, pergerakan matahari, dan menemukan instrumen untuk membantu studi astronomi.

tokoh islam ilmu pengetahuan al biruni

Dalam dunia matematika, Biruni adalah seorang pelopor dalam studi tentang sudut dan trigonometri. Dia juga memiliki kontribusi yang besar pada geometri. Kemudian dia juga memberi sumbangan yang besar bagi dunia ilmu pengetahuan geologi dan geografi melalui studinya tentang penentuan keliling bumi, jari-jari bumi senilai 6.339.6 km, dan meneliti garis lintang dan menggunakan altitude maksima matahari. Studi lain yang cukup terkenal membahas tentang ilmu metalurgi dan jarak antara lokasi relatif.

Kemudian di bidang sejarah, karyanya tentang penerjemahan Kronologi Bangsa Kuno dan Studi India bisa dikenal luas karena dialah yang menterjemahkannya. Al Biruni juga melakukan penyelidikan geografis dan sejarah secara cermat untuk meneliti perbandingan agama. Dalam dunia fisika, dia menemukan berat atom spesifik dari 18 unsur, senyawa dan campurn, termasuk banyaknya elemen batu dan logam.

Teladan Baik dalam Mengejar Ilmu Pengetahuan

Al Biruni adalah contoh seorang ilmuwan muslim yang melalui penyelidikan dan penemuan ilmiahnya membuat keimanan semakin kuat. Pengalaman studinya dalam bidang astronomi dan geometri, serta eksperimen di bidang fisika membuktikan bahwa ada Tuhan Maha Kuasa yang merancang semuanya dengan sempurna. Lalu penelitian di bidang Astronomi menunjukan bahwa ada keajaiban di alam semesta yang membuktikan bahwa ada sistem terkontrol yang secara cermat mengatur semua hal, yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

Kisah Al Biruni dengan Mahmud Ghaznawi

Biruni pernah hidup dengan banyak penguasa. Salah satunya adalah Mahmud Ghaznawi, seorang muslim penakluk benua India. Dia tidak pernah menganggap pengetahuan sebagai sarana untuk mencari ketenaran, kekuasaan, dan keuntungan materi. Ketika dia menyelesaikan karya ensiklopedia yang berjudul Al Qanun Al Mas’udi (The Mas’udi Canon), Sultan Mas’ud (anak dari Mahmud Ghaznawi) pernah mengiriminya koin perak sebanyak 3 unta.

Al Biruni dengan sopan mengembalikan hadiah kerajaan tersebut dan berkata, “Aku mengabdi demi ilmu dan bukan untuk uang.” Berkat dedikasi dan kontribusi yang besar di berbagai bidang, Biruni mendapatkan gelar “Al Ustad” atau guru yang paling baik.

Kisah Wafatnya Al Biruni

Al Biruni meninggal dunia pada tahun 440 Hijriah. Ada kisah menarik saat wafatnya beliau. Saat itu hakim Al Jisabori bercerita, “Saya mengunjungi Abu Rayhan (Al Biruni) ketika dia terbaring di ranjangnya (menjelang ajal). Dia berkata kepada saya, “Anda pernah bertanya kepada saya tentang masalah ini dan itu (pen. tidak dijelaskan), saya menjawab “Apakah Anda ingin saya menanyakannya di tengah kondisi Anda yang seperti ini ?”

Dia menjawab, “Katakan padaku, bukankah lebih baik aku meninggalkan dunia ini dengan pengetahuan daripada mati dalam keadaan mengabaikannya ?” Oleh karena itu, saya menjelaskan subjek pertanyaannya, dan sebagai gantinya dia mengajari saya hal-hal yang sebelumnya pernah dijanjikan (untuk dijawab).”

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.