IslamKita
Home » Tokoh Islam » Al Khansa: Penyair Wanita yang Membakar Semangat

Al Khansa: Penyair Wanita yang Membakar Semangat

Al Khansa adalah penyair populer di abad ke-7 yang lahir dan besar di wilayah Najd, Arab Saudi. Al Khansa sendiri memiliki arti “Kijang.” Nama aslinya sendiri adalah Tumadir binti Amru bin Al Harth bin Al Sharid al Sulamiyah. Menurut banyak penikmat puisi saat itu, tidak pernah ada penyair perempuan yang syairnya penuh dengan ilmu dibanding Al Khansa Radhiyallahu Anha.

al khansa

Kisah Keislaman Al Khansa

Al Khansa adalah seorang penyair yang dikagumi oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Rasulullah biasa memintanya untuk membacakan puisi yang beliau kagumi. Khansa mengarang banyak puisi, dan puisinya yang paling terkenal adalah adalah puisi ratapan tentang dua saudara laki-lakinya yaitu Sakhr dan Mu’awiyah yang terbunuh di masa awal Islam.

Ketika Islam muncul dia langsung memeluknya dan pergi menuju Rasulullah. Dia dikenal akan keimanannya yang begitu dalam kepada Allah yang Maha Kuasa dan Rasul-Nya. Walaupun seorang perempuan, namun semangat jihadnya sangat besar demi mendukung kebenaran.

Al Khansa adalah seorang wanita yang kuat dan beriman. Hidupnya banyak diubah oleh Islam dan keimanan. Ia adalah salah satu teladan terbaik bagi wanita muslim. Ketika saudara laki-lakinya, Sakhr terbunuh pada masa awal keislaman, dia banyak membuat puisi yang bertujuan menyesalinya. Namun setelah dia memeluk Islam, dia terus menyemangati anak-anaknya untuk berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Islam banyak mengubah pandangan Al Khansa pada kehidupan. Setelah memeluk Islam, ia dan keluarganya banyak melakukan perbuatan baik, menanamkan kesabaran dan keyakinan dalam diri, dan hal inilah yang membantu mereka untuk mengatasi cobaan dalam hidup.

Kisah Al Khansa dengan Aisyah ra

Pada suatu hari, Al Khansa datang mengunjungi Aisyah radhiyallahu ‘anha, ibu para mukmin. Dia mengenakan sebuah rompi yang terbuat dari rambut. Aisyah berkata kepadanya, “Wahai Khansa! Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengatakan bahwa pakaian seperti itu dilarang.”

al khansa penyair wanita

Namun Al Khansa berkata, “Saya tidak tahu, tapi ada cerita di baliknya.” Ia kemudian menceritakan kisah tentang hidupnya. Dia bercerita, “Dahulu ayah saya menikahkan saya dengan seorang pria yang boros dan suka menyia-nyiakan hartanya. Saya pergi ke saudara saya (Sakhr) kemudian dia membagi dua hartanya lalu memberi saya bagian harga yang paling baik. Ketika suami saya mengetahuinya, ia melakukan hal yang sama sekali lagi. Dan ketika saya pergi lagi ke saudara saya (Sakhr), dia kembali membagi hartanya menjadi dua bagian lalu memberi saya bagian yang lebih baik. Istri Sakhr bertanya, “Apakah kamu tidak senang memberi setengah, mengapa kamu harus memberinya bagian yang lebih baik ?” Sakhr berkata, “Demi Allah, saya tidak pernah memberikan yang lebih buruk padanya, karena saya tidak pernah dipermalukan olehnya; dan jika saya mati, dia (Khansa) akan memotong pakaian luarnya (untuk mengenang kesedihan atas Sakhr), dan mengenakan rompi dari rambutnya sebagai gantinya.

Al Khansa, Ibu Para Syuhada

Al Khansa memiliki 4 orang anak, yang bernama: Yazid, Mu’awiyah, ‘Amr, dan Amrah. Semua anaknya memeluk agama Islam. Keempat anaknya berjuang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqas di peperangan Qadisiyah. Pada malam hari sebelum pertempuran, Khansa berkata kepada anak-anaknya,

“Wahai anak-anaku, engkau rela memeluk Islam dengan bebas. Demi Allah yang tidak ada tuhan lain yang layak disembah, engkau adalah anak dari seorang laki-laki dan perempuan. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu dan tidak mempermalukan diriku sebagai ibumu. Aku juga tidak mencemarkan garis keturunanmu yang luhur. Aku juga tidak menjelekan kalian sebagai orang tua. Kalian tahu pahala berlimpah yang disiapkan Allah yang Maha Kuasa untuk umat Islam. Kalian harus tahu kalau tempat tinggal yang abadi, lebih baik dari tempat tinggal yang fana (dunia). Al Khansa lalu membaca surat Ali Imran ayat 200.

Allah yang Maha Kuasa berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Setelah itu Al Khansa melanjutkan perkataannya, “Jika besok pagi datang saat kamu merasa aman, Insya Allah pergilah lebih awal untuk memerangi musuhmu dengan penuh keberanian. Carilah dukungan Allah yang Maha Kuasa untuk melawan musuh-musuh-Nya. Ketika peperangan jadi begitu sengit, bertarunglah dengan berani, mungkin kalian akan menerima keuntungan dan kehormatan di tempat tinggal yang abadi.”

Setelah mendengar nasihat ibunya, semua anaknya berangkat ke medan perang dan terus bertempur sambil membaca puisi dalam bahasa Rajaz (bahasa yang digunakan dalam puisi Arab). Keempat anaknya tewas dalam medan pertempuran. Ketika Khansa menerima kabar kematian empat anaknya, di berkata, “Segala puji bagi Allah yang Maha Kuasa yang menghormati saya dengan terbunuh-Nya mereka di jalan-Nya. Saya berharap bahwa saya akan bertemu dengan mereka di tempat peristirahatan abadi yang dipenuhi Rahmat Allah.” Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu terus memberi gaji ke-4 putra Al Khansa, masing-masing 200 dirham sampai Umar meninggal dunia.

Al Khansa wafat pada masa permulaan Khalifah Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Ia meninggal dunia pada tahun 24 Hijriah/645 Masehi. Ia dimakamkan di Najd, Oman.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.