IslamKita
Home » Belajar Islam » Pengertian Amalan Muta’addi & Qaashir serta Perbedaannya

Pengertian Amalan Muta’addi & Qaashir serta Perbedaannya

Secara umum semua amalan yang kita lakukan digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu amalan muta’addi dan qaashir. Amalan yang kita lakukan selama di hidup di dunia dikaitkan dengan amalan yang ditinggalkan. Pembahasan tentang amalan yang ditinggalkan oleh manusia selama hidup di dunia ini dibahas dalam Al Quran. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Ya Sin: 2)

Pengertian Muta’addi dan Qaashir

Amalan muta’addi adalah amalan yang manfaatnya untuk orang lain. Sedangkan, qaashir adalah amalan yang manfaatnya untuk pelakunya saja. Perbedaan kedua jenis amalan ini ada di siapa yang mendapat manfaatnya. Contoh amalan muta’addi adalah mengajarkan ilmu dan dakwah, membantu orang lain dalam urusannya, menolong orang yang dizalimi, dan sedekah. Kemudian, contoh amalan qaashir adalah shalat, puasa, iktikaf, dan membaca Al Quran.

Amalan Mana yang Lebih Utama ?

Menurut pendapat para ahli syariat Islam, amalan muta’addi lebih utama dibanding amalan qaashir. Mengapa lebih utama ? Karena manfaat amalan ini lebih besar dan bisa dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain. Meskipun lebih utama, namun bukan berarti amalan qaashir tidak penting. Kedua jenis amalan ini sama pentingnya untuk kamu di dunia dan akhirat. Namun manfaat amalan yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain dipandang lebih afdhal.

amalan bermanfaat untuk orang lain

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga. (HR. Muslim, No. 2674)

Alasan kenapa amalan muta’addi lebih utama adalah karena meskipun pelaku amalan ini meninggal dunia, amalan tersebut tidak terputus. Sedangkan bagi pelaku amalan qaashir jika ia meninggal dunia, amalannya akan terputus. Amalan yang bermanfaat untuk banyak orang akan tetap berguna.

Selama amalan tersebut tetap dimanfaatkan orang lain, pelaku amalan tersebut akan tetap mendapat pahalanya. Contohnya, jika A mengajari B mengaji. Ketika A meninggal dan B terus mengaji maka A akan tetap mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala si B.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun. (HR. Muslim No. 1017)

Dalam hadits yang lain diterangkan oleh Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. (HR. Muslim, No. 1893)

Keutamaan amalan ibadah tidak bisa dilihat dari jenis amalannya. Contohnya amalan qaashir seperti puasa dan naik haji meskipun manfaatnya hanya untuk diri sendiri, namun amalan ini termasuk dalam rukun Islam dan merupakan amalan yang penting.

amalan mutaaddi

Ada beberapa contoh kasus di mana amalan mutaaddi lebih utama dari qaashir. Misalnya pergi berjihad lebih utama dibanding amalan sunnah qaashir, seperti shalat sunnah malam, puasa sunnah, dan meninggalkan shalat tepat waktu (bisa diqashar atau ditunda). Contoh lainnya, misalnya ada orang lain yang ingin diajari membaca Al Quran, maka itu lebih utama dibanding membaca Al Quran atau berdzikir sendirian.

Besarnya Pahala Jadi Orang Bermanfaat

Orang yang memberi manfaat untuk orang lain adalah orang yang paling dicintai Allah. Selain itu, Allah juga sangat mencintai hamba-Nya yang membahagiakan orang lain dan menolongnya dari kesusahan. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani, No. 13280)

Walaupun amalan muta’addi lebih utama, kita tidak boleh menomorduakan amalan qaashir. Kita harus melihat kondisi dan memprioritaskan mana yang harus diutamakan. Amalan yang bersifat wajib harus tetap dilaksanakan. Sedangkan yang bersifat sunnah bisa digantikan prioritasnya dengan amalan lain yang lebih bermanfaat untuk banyak orang.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.