IslamKita
Home » Hukum Islam » Bolehkah Mencocokan Bencana Alam dengan Nomor Ayat Al Quran ?

Bolehkah Mencocokan Bencana Alam dengan Nomor Ayat Al Quran ?

Saat bencana alam terjadi, terkadang kita sering mendapatkan pesan SMS atau WhatsApp yang mengaitkan bencana alam yang terjadi dengan nomor ayat atau surat tertentu di dalam Al Quran. Misalnya, pada 2 Agustus 2019 terjadi bencana alam di Selatan Banten dan berefek ke berbagai daerah seperti Serang, Cilegon, Lampung, hingga Jakarta dan sekitarnya. Gempa dengan kekuatan 7.4 skala ricther tersebut kemudian dicocokan oleh sebagian orang dengan Surat ke-7 ayat ke-4 dalam Al Quran, yaitu:

وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُونَ

Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. (QS. Al-A’raf: 4)

Lalu apakah boleh kita mengaitkan bencana alam dengan salah satu ayat Al Quran ? Apa hukumnya mencocokan bencana alam seperti: banjir, longsor, air bah, gunung meletus, tsunami, hingga gempa bumi dengan ayat di dalam Al Quran ?

Hukum Mencocokan Bencana Alam dengan Ayat Al Quran

Sayang sekali bahwa hal tersebut adalah tidak benar, bahkan tidak dibolehkan. Kenapa ? Mengaitkan gempa bumi dengan salah satu ayat Al Quran seperti di atas adalah hal keliru. Karena jangan sampai Al Quran yang suci digunakan sebagai “alat tebak-tebakan” bencana alam yang akan terjadi di negara kita. Pertanyaan sederhana, jika bencana alam tersebut tidak terjadi, apakah kita bisa menebak akan terjadi gempa atau longsor dari ayat Al Quran ? Tentu saja tidak.

mencocokan bencana alam dengan ayat al quran

Lalu bagaimana dengan bencana alam lain yang memakan banyak korban ? Misalnya bencana alam gempa dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana alam yang memakan korban jiwa itu dimulai oleh gempa besar berkekuatan magnitudo 9.2 skala richter. Jika kita mau mengaitkannya dengan ayat Al Quran, maka akan ditemukan di surat 9 ayat 2, yaitu:

فَسِيحُوا فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ مُخْزِي الْكَافِرِينَ

Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir. (At-Taubah: 2)

Ayat di atas mungkin agak terdengar janggal jika dicocokan dengan Aceh, karena sebagaimana kita tahu bahwa Aceh adalah provinsi atau daerah yang mayoritas penduduknya beragama islam. Lalu jika tanggal bencana alam dicocokan ke dalam salah satu ayat Al Quran, maka akan ditemukan surat dan ayat:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. (Asy-Syu’ara’: 12)

Ayat di atas malah terasa tidak ada kaitannya dengan bencana alam besar yang memakan banyak korban. Ayat di atas menceritakan peristiwa Nabi Musa Alaihis Salam yang diminta Allah untuk berdakwah (mendatangi) kaum Fir’aun.

Dari contoh di atas, bisa disimpulkan bahwa tidak semua ayat Al Quran bisa dicocokan dengan salah satu ayat Al Quran. Jangan sampai ada orang lain yang menganggap bahwa Al Quran berisi ramalan kejadian bencana alam yang akan terjadi di bumi. Padahal Al Quran diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk ditadabburi, direnungkan dan dipahami maknanya.

Cara Menafsirkan Bencana Alam yang Benar ?

Islam bukan agama yang mengajarkan mistisme, supranatural, dan tahayul. Hubungan antara sebab dan akibat adalah hal biasa. Mempercayai bahwa angka adalah pertanda dari sebuah bencana adalah hal yang salah. Islam bahkan melarang mempercayai hal tersebut. Islam sangat memperhitungkan nalar dan ilmu pasti.

bencana alam dan al quran

Mempercayai nomor ayat atau surat jadi pertanda sebuah bencana adalah tidak dibenarkan. Namun jika menjadikan ayat dan surat di dalam Al Quran sebagai petunjuk apa sebab dan akibat dari sebuah bencana alam adalah hal yang dibenarkan.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat Al Quran bukanlah turun untuk dikaitkan dengan kejadian atau peristiwa bencana alam saat ini. Ayat-ayat di dalam Al Quran dijadikan sebagai petunjuk bahwa semua sebab ada akibatnya. Oleh karena itu, manusia diminta untuk memahami apa maksud dan mengambil pelajaran dari setiap ayat, bukannya malah mencocok-cocokan nomor ayat dengan kejadian yang baru saja dialami.

hukum mencocokan bencana alam dengan al quran

Menafsirkan Al Quran seperti mengaitkan nomor ayat dengan bencana alam adalah hal tercela karena sama saja memahami Al Quran dengan logikanya sendiri. Hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berikut bisa dijadikan pelajaran:

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi, No. 2951)

Hadits di atas menjelaskan bahwa menafsirkan Al Quran tidak boleh sembarangan. Apalagi dengan sengaja mengaitkan nomor ayatnya dengan bencana alam. Sahabat Rasul sendiri pun tidak berani menafsirkan kata sederhana dalam Al Quran, berikut kisahnya:

Umar bin Khattab mencontohkan tidak seenaknya kita menafsirkan ayat. Ketika beliau membaca ayat di mimbar,

وَفَاكِهَةً وَأَبًّا

“Dan buah-buahan serta rumput-rumputan” (QS. ‘Abasa: 31)

Umar berkata, kalau “fakihah” dalam ayat ini sudah kita kenal. Namun apa yang dimaksud “abba?” Lalu ‘Umar bertanya pada dirinya sendiri. Lantas Anas mengatakan,

إن هذا لهو التكلف يا عمر

“Itu sia-sia saja, mempersusah diri, wahai Umar.” (Al Hakim)

Yang dimaksud adalah Umar dan Anas ingin mengetahui bagaimana bentuk abba itu sendiri. Mereka sudah mengetahuinya, namun bentuknya seperti apa yang mereka ingin ungkapkan. Abba yang dimaksud adalah rerumputan yang tumbuh di muka bumi. Sahabat yang mulia seperti Umar bin Khattab dan Anas bin Malik begitu hati-hati dalam menafsirkan ayat. Mereka khawatir jika salah, karena dapat jauh dari apa yang dikehendaki Allah Ta’ala tentang maksud ayat itu.

Cara Menafsirkan Al Quran yang Benar

Ibnu Katsir menerangkan bagaimana cara terbaik menafsirkan Al Quran, yaitu sebagai berikut:

  1. Menafsirkan Al Quran dengan Al Quran. Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lain
  2. Jika tidak didapati tafsirannya, maka Al Quran ditafsirkan dengan sunnah atau hadits
  3. Jika tidak ditemukan di sunnah dan hadits, maka Al Quran ditafsirkan dengan perkataan sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti khulafaur rosyidin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar
  4. Terakhir, Jika tidak didapati tafsirannya baru beralih pada perkataan tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah (bekas budak Ibnu ‘Abbas), ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Masruq bin Al Ajda’, Sa’id bin Al Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, Qotadah, dan Adh Dhohak bin Muzahim.

Kesimpulan

Al Quran diturunkan memang untuk dipelajari dan dijadikan petunjuk hidup bagi manusia. Namun yang dimaksud untuk dipelajari adalah kontennya atau kata-kata di dalam setiap ayat. Memahami Al Quran dan mengambil petunjuk Al Quran hanya dari nomor ayatnya tentu adalah hal yang salah karena tidak semestinya seorang muslim berpatokan dalam angka-angka saat memahami Al Quran. Jika ingin memahami Al Quran, pelajarilah ayatnya bukan nomor ayatnya.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.