IslamKita
Home » Belajar Islam » Bolehkah Berobat ke Dokter Lawan Jenis yang Bukan Mahram ?

Bolehkah Berobat ke Dokter Lawan Jenis yang Bukan Mahram ?

Apakah boleh seorang pria berobat ke dokter wanita yang bukan mahram, atau sebaliknya ? Bolehkah wanita berobat ke dokter pria yang bukan mahram. Persoalan sering jadi polemik sendiri di tengah masyarakat. Sebagaimana kita tahu bahwa antar lawan jenis yang bukan mahram dilarang saling bersentuhan.

Sedangkan saat berobat, dokter diharuskan menyentuh bagian tubuh pasien yang sakit, seperti misalnya saat membantu melahirkan dan operasi. Lalu bagaimana hukum berobat ke dokter yang berbeda jenis kelamin dan bukan mahram kita ?

Hukum Berobat Ke Dokter Lawan Jenis

Jika berobat ke dokter umum mungkin kita bisa memilih sendiri dokter yang jenis kelaminnya sama sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran. Namun bagaimana jika yang kita butuhkan adalah dokter spesialis seperti spesialis saraf, kandungan, penyakit dalam, dan lain sebagainya. Jumlah dokter spesialis memang tidak sebanyak dokter umum. Terlebih lagi di daerah pedalaman. Terkadang hanya ada satu dua dokter spesialis yang bisa dijadikan rujukan untuk berobat.

berobat ke dokter lawan jenis

Dalam keadaan seperti ini, jika tidak dimungkinkan mencari dokter lain yang sama jenis kelaminnya, Islam membolehkan kita untuk berobat ke dokter lawan jenis. Dengan catatan kita memang sudah mencari dokter lain dan tidak ada pilihan lain selain ke dokter tersebut. Atau jika keadaaan sedang darurat dan sulit mencari dokter lain, maka dibolehkan berobat.

Sebagai contoh, jika ada seorang muslimah yang keadaannya benar-benar terhimpit dan tidak ada pilihan lain, maka ia boleh pergi ke dokter lelaki, karena tidak ada ada seorang dokter muslimah (wanita) yang mengetahui penyakitnya maupun memang belum ada yang ahli. Dalil membolehkan berobat ke dokter berbeda jenis saat darurat adalah:

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-An’am: 119)

Sama seperti dibolehkannya makan-makanan yang masuk kategori haram, selama dalam keadaan darurat kita boleh memakannya. Maka dari itu, jika memang kondisinya darurat maka sah saja jika kamu ingin berobat ke dokter yang berbeda jenis dan bukan mahramnya.

Ketentuan Saat Berobat dan Mengobati Lawan Jenis

Meskipun berobat ke dokter lawan jenis dibolehkan selama keadaannya darurat, namun ada rambu yang perlu diperhatikan dan ditaati. Hal ini semata untuk menjaga niat antara dokter dan pasien agar tidak melampaui batasnya. Ketentuan umum saat muslim berobat ke dokter lawan jenis adalah harus ditemani mahramnya (suami atau istri). Tujuannya agar tidak timbul fitnah. Selain itu, ada beberapa aturan yang harus diperhatikan yaitu:

1. Membuka Aurat saat Berobat ke Dokter

Ketentuan pertama adalah mencari dokter yang sama jenis kelaminnya. Jika pria lebih baik cari dokter pria, begitu juga dengan wanita. Namun jika keadaanya darurat dan tidak ada dokter yang lain yang bisa menangani penyakit tersebut, maka dibolehkan berobat. Saat berobat tidak jarang pasien diminta untuk membuka auratnya, oleh karena itu dibutuhkan mahram untuk mendampingi supaya tidak timbul fitnah dan memberi kenyamanan pada sang pasien.

2. Aurat yang Boleh Diperlihatkan

Aturan kedua adalah tidak boleh membuka aurat melebihi aurat yang ingin diperiksa. Jadi intinya cukup membuka aurat yang ingin diperiksa saja dan tidak lebih dari itu. Saat memeriksa dokter lawan jenis juga diharapkan bersifat profesional dan menundukan pandangan semampunya. Jika pasien atau dokter sudah melampaui batas masing-masing hendaknya perbanyak istighfar kepada Allah Ta’ala.

3. Jika Tidak Perlu Buka Aurat, Maka Lebih Baik

Jika dokter dapat mendeteksi penyakit tanpa harus membuka aurat maka itu lebih baik. Misalnya, dokter hanya perlu menyentuh sedikit bagian tubuh untuk mendeteksi tanpa membuka pakaian si pasien maka itu sudah cukup. Namun jika ingin menyentuh langsung lebih baik menggunakan pembatas seperti sarung tangan misalnya.

4. Hindari Berduaan dengan Dokter Tanpa Mahram

Jika suami berobat ke dokter wanita, hendaknya ditemani istri atau anaknya. Begitu juga dengan wanita yang berobat ke dokter pria harus ditemani mahramnya. Jangan sampai terjadi peristiwa kholwat atau berduaaan antara pria dan wanita yang bukan mahram.

berobat ke dokter

5. Berobat ke Dokter Lawan Jenis Karena Butuh

Memeriksa penyakit ke dokter yang berbeda jenis kelamin harus benar-benar amanah dan karena dibutuhkan. Jangan mengada-ada. Berobat ke dokter lawan jenis harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan (hajatnya) dan berobat karena memang terbukti harus berobat bukannya hanya untuk menduga-duga saja.

6. Pastikan Aman dari Fitnah dan Godaan

Yang terakhir, pastikan bahwa kebutuhan berobat dan membuka aurat di depan dokter lawan jenis adalah murni karena untuk berobat dan tidak ada dokter lain yang mampu menanganinya. Jika ingin berobat diharuskan ditemani oleh mahramnya. Hal ini akan lebih baik karena bisa menghindari godaan fitnah yang lebih jauh.

Kesimpulan

Berobat ke dokter lawan jenis yang bukan mahramnya dibolehkan selama kita sudah berusaha mencari dokter lain dan tidak ada yang sanggup menangani penyakit yang kita derita. Dalam keadaan ini berlaku hukum darurat sehingga apa yang tadinya haram dibolehkan selama masih dalam koridor yang sudah ditentukan.

Selama memeriksa pasien yang berlawanan jenis, seharusnya dokter selalu menjaga pandangannya. Bersikap profesional akan lebih baik karena tujuan utama dari pengobatan adalah membantu pasien lepas dari penyakitnya.

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nur: 30)

Berobat sebisa mungkin dilakukan dengan obat yang halal dan cara yang dibenarkan. Pengobatan juga harusnya dilakukan oleh orang yang tepat dengan cara yang benar. Jika pasiennya adalah laki-laki, sebaiknya dokter yang mengobatinya adalah laki-laki, begitupun sebaliknya. Namun jika sulit mencari dokter yang tepat dan ahli di bidangnya maka pengobatannya dibolehkan karena termasuk dalam jenis obat yang hukum asalnya boleh.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.