IslamKita
Home » Belajar Islam » 6 Cara Orang Beriman Menghadapi Wabah Penyakit Menular

6 Cara Orang Beriman Menghadapi Wabah Penyakit Menular

Musibah bisa menimpa siapa saja. Baik bencana alam hingga suatu wabah penyakit menular antar manusia, bisa orang kaya atau miskin, muda maupun tua. Bahkan wabah penyakit juga menular ke semua orang apapun agamanya. Penyakit yang Allah Ta’ala berlaku untuk semua orang, baik itu muslim maupun non muslim.

cara muslim menghadapi wabah

Bagi umat muslim, ada banyak panduan yang bisa kita lakukan untuk mencegah terkena wabah penyakit. Ada 6 cara yang sebaiknya dilakukan oleh umat islam ketika ditimpa cobaan wabah penyakit. Bagaimana cara terbaik untuk menghadapi wabah penyakit ?

1. Berpikir dengan Ilmu dan Tidak Menyebarkan Hoaks

Saat ditimpa wabah penyakit, misalnya wabah penyakit SARS, MERS, atau Corona Covid-19, seharunya seorang muslim sejati harus mencari tahu dan mempelajari wabah tersebut. Pelajari kenapa seseorang bisa terkena penyakit menular, bagaimana cara penyebarannya, dan bagaimana cara mengobatinya.

Saat wabah penyakit semakin meluas, kita tidak boleh menyebarkan berita hoax (berita bohong) yang membuat orang lain semakin cemas. Berpikirlah dengan akal yang diberikan Allah Ta’ala. Kendalikan informasi yang kamu terima dan sebarkan. Buat orang lain tenang dengan tidak menyebarkan berita yang tidak jelas asal sumbernya. Ingatlah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (QS. An-Nur: 11)

Saat wabah penyakit menular sedang menyebar di kalangan umat, berita bohong dan kecemasan yang kita sebar bisa menurunkan imunitas orang lain. Saat mendapat berita buruk, secara biologis imun tubuh akan berkurang. Saat kita memberinya informasi buruk, sama saja dengan membiarkan penyakit menular masuk ke tubuh orang tersebut. Menyebar hoaks akan memperparah kondisi. Kehidupan sosial akan kacau balau akibat ulah jempol tangan kita.

2. Melihat Musibah dari Kacamata Iman

Orang yang beriman pasti tidak pernah berburuk sangka kepada Allah. Yakinlah bahwa setiap cobaan yang hadir di tengah umat muslim akan membawa kebaikan. Setelah itu, kita harus optimis bahwa wabah ini akan berlalu. Allah pun akan memberi yang terbaik setelah musibah ini pergi. Rasulullah menganjurkan kita untuk menghadapi wabah dengan pikiran positif. Diriwayatkan oleh Anas Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِيْ الْفَأْلُ

Tidak ada penyakit yang menular sendiri dan tidak ada kesialan. Al-fa`lu (kata-kata yang baik) membuatku kagum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal serupa pernah terjadi saat Nabi Ayyub ditimpa cobaan penyakit oleh Allah. Nabi Ayyub optimis saat menerima cobaan dan percaya bahwa penyakitnya akan cepat berlalu. Saat diminta istrinya berdoa agar disembuhkan, Nabi Ayyub malah malu karena sudah diberi kenikmatan selama 80 tahun oleh Allah, namun baru diberi sakit 7 tahun sudah mengeluh.

3. Jadikan Musibah Sebagai Ladang Amal

Saat musibah datang, orang beriman akan memandangnya sebagai ladang amal yang luas. Ini membuatnya tidak pernah merasa rugi ketika ditimpa wabah penyakit. Jika ia sakit maka akan jadi pahala atas kesabarannya, jika meninggal ia akan mendapat pahala seperti mati syahid, dan ketika melihat orang lain sakit kita bisa membantunya dan akan dicatat sebagai pahala bersedekah.

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS. At-Taubah: 51)

4. Maksimalkan Ikhtiar, Ikuti Pemerintah dan Ahlinya

Saat wabah penyakit menular ada di tengah masyarakat, cara terbaik untuk mencegah penularan dan penyebaran adalah dengan isolasi wilayah atau lockdown. Tujuannya supaya wabah penyakit yang ada di satu kota, tidak keluar dari kota tersebut. Jika dibiarkan menyebar maka dampaknya akan sangat masif.

cara orang beriman menghadapi wabah

Saat menghadapi wabah penyakit menular Covid 19 di tahun 2020, banyak negara menerapkan kebijakan lockdown untuk mencegah warga negaranya keluar dan warga asing masuk ke dalam negara mereka. Jauh sebelum itu, Rasulullah pernah menganjurkan hal yang sama. Nabi Muhammad menganjurkan untuk tidak memasuki daerah yang sedang terjangkit penyakit. Bagi orang yang ada di dalam juga tidak dibolehkan keluar.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّامِ فَلَمَّا جَاءَ سَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ فَرَجَعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مِنْ سَرْغَ

Artinya, “Dari Abdullah bin Amir bin Rabi‘ah, Umar bin Khattab RA menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.’ Lalu Umar bin Khattab berbalik arah meninggalkan Sargh,” (HR Bukhari dan Muslim)

5. Hadapi Wabah dengan Berdoa

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika mereka tidak mau berusaha. Setelah Anda sudah maksimal berikhtiar untuk melindungi diri sendiri, cara menghadapi wabah selanjutnya adalah berdoa. Allah memerintahkan kepada kamu muslimin agar ikhtiar di dalam Al Quran, bahwa Allah berfirman,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ada beberapa doa yang bisa diamalkan saat terjadi musibah. Doa ini pernah diamalkan oleh para nabi. Doa-doa ini bisa kamu temukan di dalam Al Quran:

1. Doa Nabi Adam

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf: 23).

2. Doa Nabi Musa

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Musa berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Qasas: 16)

3. Doa Nabi Nuh

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Hud: 47)

4. Doa Nabi Yunus

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Anbiya: 87)

6. Menghadapi Wabah dengan Dzikir dan Sedekah

Setelah semuanya dilakukan, cara menghadapi wabah penyakit yang terakhir adalah rutin melakukan dzikir pagi petang. Bacaan dzikir pagi hari bisa kamu baca di artikel Doa dan Dzikir Pagi untuk Melindungi Diri. Selain itu, disarankan untuk selalu bersedekah, kenapa karena salah keutamaan sedekah adalah dapat memperpanjang usia dan melindungi dari musibah. Saat wabah dan musibah terjadi, banyak lembaga sosial membuka kesempatan untuk kita berdonasi. Sisihkan sebagian rezeki kita untuk mereka yang membutuhkan.

*Sumber artikel diambil dari Kajian Ustadz Budi Ashari, Lc (22 Maret 2020).

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.