IslamKita
Home » Belajar Islam » Doa untuk Pengantin dan Hukum Menghadiri Walimah (Resepsi)

Doa untuk Pengantin dan Hukum Menghadiri Walimah (Resepsi)

Ketika melihat saudara atau teman yang baru menikah pasti kita akan turut berbahagia dan mengucapkan selamat. Lalu adakah doa pengantin yang harus dibaca ? Seperti apa doa untuk pengantin yang sesuai dengan sunnah ?

Doa Pengantin Sesuai Sunnah Rasulullah

Di tengah masyarakat, khususnya masyarakat di Indonesia biasanya memberi ucapan doa pengantin dengan kalimat “sakinah, mawadah, warohmah/(langgeng, penuh cinta, dan penuh sayang)” Biasanya kalimat tersebut disingkat menjadi “samawa.” Mendoakan untuk pengantin dengan kalimat tersebut sebenarnya tidak apa-apa jika kita tahu apa maksudnya dan cara mengucapkan doa untuk pengantin dengan benar.

doa untuk pengantin

Namun sayangnya saat ini, doa tersebut sering disingkat dengan cara yang salah. Seharusnya jika disingkat doa tersebut menjadi “Samara” bukan Samawa karena Wa di kalimat itu artinya “dan.” Daripada mendoakan dengan doa yang salah, lebih baik mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berikut ini:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa jika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ingin memberi ucapan selamat kepada seseorang yang telah menikah, beliau mendoakannya dengan doa,

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

“(Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khayrin) Semoga Allah memberkahimu ketika bahagia dan ketika susah dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, No. 1091)

Dalam riwayat lain, doa pengantin di atas bisa dibaca dengan ringkas, yaitu:

بَارَكَ اللهُ لَكَ

“(Baarakallahu lak) Semoga Allah memberikan keberkahan padamu.” (HR. At Tirmidzi, No. 1094)

Selain dalam bahasa Arab, doa ini juga boleh dibaca dalam bahasa Indonesia, seperti: “Semoga Allah berkahi pernikahanmu…”

Doa pengantin yang diajarkan Rasulullah mengandung arti semoga pasangan yang menikah diberi keberkahan. Hal ini tentu lebih besar maknanya karena keberkahan akan membawa kebahagiaan. Mulai saat ini, kita bisa mulai mendoakan pengantin dengan doa yang sesuai sunnah, karena dengan mengikuti sunnah semoga kita juga turut mendapat keberkahan.

Hukum Menghadiri Walimah Pernikahan

Walimah adalah makanan yang disajikan ketika resepsi nikah. Walimah juga bisa berarti menyajikan makanan untuk tamu yang hadir dalam resepsi pernikahan. Selain dua pengertian tersebut, walimah juga merupakan kegiatan berkumpul ketika kedua pasangan telah resmi menikah menjadi suami dan istri.

hukum walimah

Mengenai hukum walimah bisa dilihat dari hadits atau riwayat berikut ini:

Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melihat Abdurrahman ada bekas warna kuning pada pakaiannya (bekas wewangian wanita yang biasa dipakai ketika menikah). Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu wahai Abdurrahman ?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar.”

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kembali bertanya, “Berapa mahar yang engkau beri kepadanya ?” Abdurrahman menjawab, “Aku memberinya mahar emas sebesar sebuah kurma (sekitar lima dirham).” Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata ketika itu,

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

“Lakukanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari, No. 2049)

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum walimah. Ada yang mengatakan sunnah dan wajib. Namun intinya, banyak ulama berpendapat bahwa anjuran walimah adalah sunnah. Bagi orang yang mampu mengadakan walimah maka dipersilakan mengadakan walimah dengan seekor kambing. Namun, jika tidak mampu boleh mengadakan walimah seadanya.

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menikahi Shafiyyah, walimahnya tidak dengan daging. Namun ketika menikahi Zainab, Nabi Muhammad menyediakan walimah dengan roti dan daging. Menurut riwayat ini, hukum walimah boleh disesuaikan dengan kemampuan si pengantin.

Lalu bagaimana dengan hukum menghadiri walimah ?

Hukum menghadiri walimah pernikahan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar Radhiyallahu Anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Rasulullah bersabda,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيْمَةِ فَلْيَأْتِهَا

Jika seorang dari kalian diundang ke walimah, maka hendaklah mendatanginya. (HR. Al Bukhari No. 5173)

Dan dalam haditsnya yang lain, Beliau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Siapa yang meninggalkan undangan tersebut, maka ia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.”(HR. Muslim No. 1432)

Hadits di atas menegaskan wajibnya mendatangi undangan walimah. Dalam madzhab Syafi’i, hukum menghadiri undangan walimah (walimatul ‘urs)  adalah wajib. Pendapat dalam madzhab Syafi’i, menjelaskna bahwa menghadiri undangan walimah itu fardhu ‘ain. Namun, kewajiban tersebut menjadi gugur, jika ada udzur, seperti:

  • Sedang sakit, perjalanan jauh, atau hal lain yang membuat tidak bisa hadir dalam walimah
  • Ingin menghindari kemungkaran (perbuatan dzalim) yang terjadi dalam walimah. Misalnya walimah diadakan di klub malam atau tempat yang sering digunakan untuk bermaksiat. Menghindari datang ke walimah juga dibenarkan jika acara walimah memiliki konsep yang jauh dari syariat agama.

Sedangkan bagi yang tidak memiliki udzur dan sudah mendapat undangan walimah dari pengantin maka diwajibkan untuk datang. Saat bertemu dengan pengantin kita juga bisa membaca doa pengantin seperti yang dijelaskan di atas. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.