IslamKita
Home » Hukum Islam » Hukum Curhat ke Orang Lain/Lawan Jenis Menurut Islam

Hukum Curhat ke Orang Lain/Lawan Jenis Menurut Islam

Beberapa orang menggap curhat atau curahan hati adalah cara terbaik untuk meringankan masalah berat yang sedang dihadapi. Lalu bagaimana islam memandang hukum curhat kepada orang lain atau lawan jenis yang bukan mahram ?

hukum curhat

Masalah sekecil dan sebesar apapun adalah sudah hukum sunnatullah. Artinya sudah pasti terjadi dan menimpa semua umat manusia apapun agamanya. Masalah atau problem adalah hukum Allah yang sudah pasti. Untuk menyikapi dan mencari solusi dari masalah, tidak jarang orang-orang melakukan curhat ke orang lain. Tidak jarang, curhat ini juga dilakukan di media sosial. Dengan mudahnya orang membuka masalah yang sedang dihadapinya ke publik tanpa memikirkan apa akibatnya.

Hukum Curhat Menurut Agama Islam

Walaupun curhat dianggap bisa meringankan masalah, namun sebenarnya justru curhatlah yang membuat masalah kita semakin besar. Disadari atau tidak, curhat sering berujung kepada ghibah atau membicarakan keburukan orang lain. Atau setidaknya, curhat adalah pintu untuk membuka air dirinya sendiri ke orang lain. Membuka aib orang lain dan aib sendiri jelas dilarang dalam agama Islam.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

hukum curhat ke orang lain

Sebaiknya, masalah sebesar apapun tidak boleh disebarkan ke orang lain. Karena tidak ada jaminan bahwa orang lain bisa menjaga rahasia tersebut, maka hukum curhat adalah tidak dibenarkan. Setiap umat muslim harusnya siap menghadapi masalah karena merupakan sunatullah. Jika ingin berkeluh kesah, maka curhatlah kepada Allah, karena Ia adalah tuhan yang maha kuasa dan bisa memberi jalan keluar terbaik untuk setiap ujian yang ditimpakan kepada umatnya.

Belajar dari Curhat Nabi Ya’qub AS

Saat ditimpakan masalah, ingatlah bahwa pernah ada manusia yang ditimpakan masalah berat. Ia adalah nabi Ya’qub Alaihissalam. Ia pernah kehilangan anak kesayangannya, yaitu nabi Yusuf Alaihissalam ketika masih kecil. Maka simaklah apa yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub berikut ini:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”. (QS. Yusuf: 86)

Nabi Ya’qub dengan segera curhat langsung kepada Allah, karena ia yakin tidak ada daya dan upaya yang bisa dilakukan manusia, kecuali atas izin Allah. Ini bisa dijadikan pelajaran karena toh Allah juga akan menjawab setiap umatnya yang meminta pertolongan.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Curhat Nabi Ayyub AS Ketika Ditimpa Cobaan Berat

Nabi Ayyub Alaihissalam adalah nabi sekaligus manusia yang pernah ditimpa masalah atau cobaan terberat yang pernah ditimpakan kepada manusia. Dalam waktu singkat, seluruh anaknya meninggal dunia, istrinya meninggalkannya, hartanya habis, dan beliau ditimpakan penyakit yang mungkin tidak akan diderita oleh manusia setelahnya.

Setelah ditimpa oleh masalah besar selama bertahun-tahun, nabi Ayyub hanya bisa bersabar dan pada akhirnya ia berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (QS. Shaad: 41)

Karena ia mengadukan masalahnya kepada Allah, maka Allah langsung menjawabnya:

ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

(Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. (QS. Shaad: 42)

Tidak hanya itu, Allah kemudian mengganti semua harta benda yang telah hilang dengan yang lebih baik:

وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shaad: 43)

Cara Curhat yang Benar Dalam Islam

Curhat memang jadi pintu masuk ghibah dan membuka aib diri sendiri. Namun, bukan berarti curhat dilarang sepenuhnya. Selama tujuan curhat adalah untuk meminta nasihat tanpa membuka aib diri sendiri atau orang lain maka diperbolehkan. Selain itu, pastikan bahwa sebelum meminta masukan dari orang lain, dahulukan Allah. Datanglah kepada Allah terlebih dulu ketika ditimpa masalah.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. Qaf: 16)

Jika kehadiran Allah, begitu dekat maka untuk apa meminta solusi dan bantuan dari orang lain yang tidak berdaya tanpa kuasa Allah ? Bagi siapapun yang berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah lebih dulu, maka Allah akan memberi jalan keluar yang lebih baik dari setiap masalah yang dihadapinya.

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (QS. An-Naml: 62)

Hukum Curhat pada Lawan Jenis (Bukan Mahram)

Teman dekat adalah tempat curhat terbaik menurut sebagian orang. Hal ini adalah salah karena terlebih lagi jika teman kita adalah lawan jenis atau suami / istri orang lain. Membuka aib diri sendiri atau aib keluarga ke orang lain yang bukan mahram tentu sangat dilarang.

hukum curhat ke teman

Terlebih lagi jika ada wanita yang curhat ke suami orang lain ? Atau sebaliknya, pria yang curhat ke istri orang lain. Jika ia sampai membuka aib pasangannya sendiri tentu jadi dosa yang besar.

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّوَمَعَهاَذُو مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)

Curhat berduaan dengan lawan jenis yang sudah memiliki pasangan tentu akan berdampak ke dosa besar. Perbuatan ini bisa mengundang fitnah dan mendekati zina. Ini karena keduanya berbicara tanpa batas membicarakan kekurangan orang lain tanpa adanya pembatas atau mahram lain yang bersamanya. Mendekati zina bukan hanya dapat terjadi ketika sedang bertemu berduaan secara langsung, namun juga dapat terjadi secara tidak langsung dan melalui hal-hal kecil, seperti: chatting dengan suami orang dan bertelponan dengan suami orang, begitu juga sebaliknya.

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi)

Berdasarkan hadits di atas, barangsiapa yang bisa menjaga aib orang lain maka Allah akan menutup aibnya di akhirat. Begitu pula dengan sebaliknya, jika ada yang tidak bisa menjaga aib saudara atau pasangannya, Allah akan menimpakan dosa yang besar pada orang tersebut. Jadi, bisa disimpulkan hukum curhat dilarang dalam islam karena sama saja membuka aib diri sendiri atau orang lain. Selain itu, curhat ke pasangan orang lain juga membuka peluang terjadinya zina. Oleh karena itu, seberat apapun masalahnya, curhat langsung kepada Allah Ta’ala.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.