IslamKita
Home » Hukum Islam » Hukum Menikah dan Rukun Nikah yang Wajib Dipenuhi

Hukum Menikah dan Rukun Nikah yang Wajib Dipenuhi

Bisa menikah adalah impian yang sangat diinginkan oleh banyak pemuda dan pemudi muslim. Menurut ajaran agama Islam sendiri, hukum menikah adalah sunnah yang ditekankan bagi siapapun yang mampu dan membutuhkannya. Menikah adalah pintu masuk berbagai macam pahala besar. Memberi nafkah adalah pahala, membesarkan anak yang sholeh adalah pahala dan masih banyak pahala lain yang bisa terwujud asalkan dengan menikah.

hukum menikah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi, No. 625)

Hukum Menikah Dalam Islam

Bagaimana hukum menikah dalam islam ? Sebenarnya Allah terus mendorong hambanya untuk segera menikah jika sudah mampu. Tujuannya tidak lain adalah untuk menjaga hawa nafsu dan bebas dari jeratan zina dan fitnah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al Quran, yaitu:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur: 32)

Sejalan dengan ayat Al Quran di atas, Rasullulah juga mendorong umat islam yang mampu untuk segera menikah. Hadits beliau berikut ini memiliki makna bahwa setiap orang wajib menjaga kesucian dirinya lewat menikah. Diriwatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (mampu) , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, No. 5065)

Hukum Menikah Bagi yang Mampu dan Tidak Mampu

Untuk menentukan hukum menikah, para ulama sepakat membaginya menjadi dua golongan. Setiap golongan punya hukum yang berbeda mengenai perlu atau tidaknya menikah.

hukum menikah dalam islam

1. Orang yang Butuh Menikah

Adalah orang yang punya kesiapan atau tidak untuk menikah. Orang seperti ini membutuhkan nikah untuk menjaga dirinya dari zina. Menurut kebanyakan ulama, termasuk ulama Syafi’iyah, golongan ini dijatuhi hukum sunnah untuk menikah. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa’: 3)

2. Orang yang Tidak Butuh Menikah

Golongan orang yang tidak butuh menikah bisa dibagi lagi menjadi orang yang tidak punya kesiapan secara mental dan orang yang tidak siap dari segi materiil. Khusus bagi orang-orang seperti ini maka hukum menikah bagi mereka adalah makruh. Kenapa ? Karena dikhawatirkan jika menikah hanya akan membebani hidupnya sedangkan ia belum mampu menghidupi dirinya sendiri.

Rukun Nikah Saat Melangsungkan Akad

Setiap muslim dan muslimah yang akan melangsungkan pernikahan seharusnya memperhatikan 5 rukun nikah yang wajib dipenuhi sebelum akad berlangsung. Jika ke-5 rukun tersebut tidak semua terpenuhi, maka hukum menikah jadi tidak sah. Dalam rangka memenuhi syariat islam, kelima rukun ini bersifat hukum sahnya pernikahan. Berikut ini syarat dan rukun nikah beserta kriterianya:

1. Calon Pengantin Laki-Laki

Adanya calon pengantin pria adalah rukun nikah yang utama. Jika tidak ada calon pengantin pria, maka tidak mungkin pernikahan bisa dilangsungkan. Berikut ini kriteria yang harus diperhatikan bagi calon suami, yaitu harus memenuhi syarat berikut:

  • Islam
  • Laki-laki
  • Bukan mahram calon istri
  • Sudah akil baligh
  • Mengenali wali pada akad nikah tersebut
  • Tidak sedang menjalankan haji atau umroh
  • Sukarela, tidak dalam keadaan terpaksa
  • Tidak memiliki empat istri yang sah dalam satu waktu
  • Paham bahwa wanita yang dinikahi sah dijadikan istri.

2. Calon Pengantin Perempuan

Rukun nikah kedua adalah adanya calon pengantin wanita. Sama seperti di atas, tanpa adanya calon maka tidak akan ada pernikahan. Berikut ini syarat yang harus dipenuhi oleh calon pengantin wanita yang akan menikah atau dinikahi:

  • Islam
  • Perempuan
  • Bukan mahram calon suami
  • Sudah akil baligh
  • Tidak sedang melaksanakan haji atau umroh
  • Tidak dalam masa iddah
  • Bukan istri orang.

3. Wali Nikah

Wali pernikahan bagi calon pengantin wanita adalah hal yang penting. Tanpa wali maka hukum nikah menjadi tidak sah. Hal ini dapat dilihat dalam hadits Rasulullah berikut ini:

اَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ.

“Tidak sah nikah kecuali dengan keberadaan wali.” (HR. At-Tirmidzi, No. 1101)

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا، وَإِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهَا.

“Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya, maka pernikahannya bathil, pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar, sehingga ia dihalalkan terhadap kemaluannya. Jika mereka terlunta-lunta (tidak mempunyai wali), maka penguasa adalah wali bagi siapa (wanita) yang tidak mempunyai wali.” (HR. Abu Daud, No. 2083)

Adapun syarat-syarat wali nikah yang sah menurut agama Islam adalah:

  • Laki-laki
  • Berakal
  • Islam
  • Baligh
  • Tidak sedang melakukan haji atau umrah
  • Tidak cacat akal pikiran, gila, atau sangat tua (uzur sehingga sulit memahami kondisi sekitar).

4. Dua Orang Saksi

Selain wali, kehadiran dua orang saksi adalah salah satu syarat sah pernikahan. Saksi dalam suatu pernikahan adalah hal yang harus dipenuhi dan wajib ada. Setiap pernikahan harus dihadiri minimal oleh dua orang saksi, dalilnya adalah hadits Rasulullah berikut ini:

اَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ، وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ.

“Tidak sah nikah kecuali dengan keberadaan wali dan dua saksi yang adil.” (HR. ‘Abdurrazzaq, No. 1858)

Syarat atau kriteria saksi pernikahan yang sesuai syariat adalah sebagai berikut:

  • Laki-laki muslim
  • Adil
  • Akil Baligh
  • Tidak terganggu ingatannya
  • Tidak tuna rungu atau tuli.

5. Ijab dan Qabul

Rukun nikah yang terakhir adalah adanya ijab dan qabul. Ijab dan Qabul ini sendiri adalah perihal yang penting karena menandakan adanya pernikahan. Mengenai lafadz ijab dan qabul bisa berbeda-beda di setiap negara karena bisa menggunakan bahasa masing-masing. Ijab adalah lafadz yang diucapkan oleh wali calon pengantin wanita untuk menukar kewalian ke suaminya kelak. Sedangkan Qabul adalah lafadz yang diucapkan oleh calon suami untuk menerima peralihan kewalian atas pengantin wanita.

Demikianlah ulasan IslamKita tentang hukum menikah dan rukun-rukun nikah. Semoga bermanfaat untuk kamu yang sedang mempersiapkan pernikahan.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.