IslamKita
Home » Hukum Islam » Hukum Menimbun Barang/Kebutuhan Pokok Saat Ada Musibah

Hukum Menimbun Barang/Kebutuhan Pokok Saat Ada Musibah

Apa hukum menimbun barang untuk dijual lebih mahal ? Saat ada musibah seperti kekeringan, banjir, atau wabah penyakit keberadaan penimbun barang dan kebutuhan pokok akan menyusahkan banyak pihak. Terlebih lagi saat ada musibah, banyak orang membutuhkan kebutuhan pokok untuk bisa bertahan hidup.

Pengertian Menimbun Barang Menurut Islam

Menimbun barang atau disebut Ihtikar adalah kegiatan membeli barang kebutuhan dengan tujuan menimbun, menguasai stok pasar, dan menjualnya kembali dengan harga lebih mahal. Berdasarkan pengertian tersebut, kita bisa simpulkan bahwa tujuan menimbun adalah: membeli barang sesuai kebutuhannya sendiri, memiliki niat untuk menimbun, bertujuan untuk menguasi stok barang di pasar, dan ingin menjual dengan harga lebih tinggi dibanding harga pasaran/harga normal.

hukum menimbun barang

Hukum Menimbun Barang & Kebutuhan Pokok

Karena kegiatan menimbun barang untuk menggangu harga pasar dapat merugikan banyak orang. Oleh sebab itu, jelas saja hukum menimbun barang adalah berdosa. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ma’mar bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

لاَ يَحْتَكِرُ إِلاَّ خَاطِئٌ

“Tidak boleh menimbun barang, jika tidak, maka ia termasuk orang yang berdosa.” (HR. Muslim, No. 1605)

Menimbun barang supaya bisa dijual lebih mahal adalah perbuatan dosa. Menimbun barang kebutuhan pokok dapat menimbulkan mudarat bagi banyak orang. Alasan pelarangan ini adalah untuk menghindari hal yang akan menyusahkan banyak orang, terlebih saat ada musibah datang. Akan tetapi, jika kegiatan menimbun termasuk dalam usaha menyetok barang seperti yang dilakukan pengusaha grosir, maka hukumnya tidak apa-apa. Asalkan tidak menimbulkan mudarat.

Perbedaan Menimbun & Stok Barang/Kebutuhan Pokok

Menyimpan atau menyetok barang berbeda hukumnya dengan menimbun. Menyimpan stok barang hukumnya diperbolehkan asal sesuai dengan ketentuan. Ketentuannya adalah barang yang disimpan nilainya kurang dari nishab zakat yakni 20 dinar (85 gr emas) dan 300 sha’ atau sekitar 7 kuintal kebutuhan pokok. Jika sudah mencapai nishab, maka harus dikeluarkan zakat atas barang yang disimpan tersebut.

Ketentuan kedua, perilaku menyimpan barang bukan bertujuan membuat barang langka di pasaran. Asalkan penjual masih mau menjual barang yang disimpan dengan harga wajar maka tujuannya tidak dihitung sebagai penimbun. Kembali lagi, semua yang dilakukan tergantung dari niat. Jika niatnya untuk merusak harga pasar dan membuat barang langka di pasaran maka otomatis akan dihitung perbuatan dosa.

Hukum Membeli Barang saat Harga Murah & Dijual saat Harga Naik

Hukum menimbun barang tidak dikenakan pada orang yang berdagang dengan cara membeli barang saat harga murah dan dijual di kisaran harga pasaran. Perbuatan ini tidak termasuk Ihtikar karena orang tersebut masih menjual dengan harga yang masuk akal. Selain itu, wajar saja jika barang yang dibeli dari produsen lebih murah karena belum termasuk ongkos distribusi, biaya operasional penyimpanan, dan lain sebagainya.

Menyimpan barang kebutuhan pokok untuk dijual lagi, tidak termasuk Ihtikar, jika:

  1. Tidak merugikan orang banyak
  2. Harga barang saat dijual kembali sama dengan harga pasaran
  3. Barang yang sama masih dijual pedagang lain.

Menjual harga lebih mahal dibanding harga beli adalah wajar, karena penjual harus mengeluarkan ongkos untuk menyimpan barang tersebut sebelum dijual kembali ke pasaran.

Jenis Barang yang Tidak Boleh Ditimbun

Ihtikar tidak terikat pada salah satu jenis barang tertentu. Ini artinya semua barang bisa dikenakan objek ihtikar dan sama besar dosanya. Hukum menimbun barang bisa dikenakan bukan hanya ke penimbun makanan saja, namun juga bisa ke penimbun bahan bakar, bahan bangunan, emas, dan mata uang negara tertentu.

hukum menimbun barang saat musibah atau wabah

Kesimpulan

Hukum menimbun barang atau kebutuhan pokok adalah berdosa. Namun jika tujuan untuk menyimpan barang atau makanan pokok hanya untuk stok maka diperbolehkan. Asalkan, barang yang disimpan tidak bertujuan untuk merusak harga pasar dan membuat barang langka di pasaran. Jika penyimpan barang masih menjual barangnya dengan harga wajar, maka tidak dikenakan dosa menimbun barang. Sebagai produsen, seharusnya kita wajib mematok harga jual tertinggi yang wajar dengan sebelumnya mempertimbangkan laba yang didapat oleh distributor atau pihak mengelola stok barang di pasar.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.