IslamKita
Home » Hukum Islam » Hukum Menjual Daging Qurban & Kulit Hewan Hasil Sembelihan

Hukum Menjual Daging Qurban & Kulit Hewan Hasil Sembelihan

Apa hukum menjual daging qurban ? Bolehkah menjual daging kurban yang telah kita dapatkan ? Sebelumnya, IslamKita pernah membahas mengenai orang yang boleh menerima daging qurban. Yang sering jadi pertanyaan adalah bolehkah orang-orang tersebut menjual daging kurban yang telah mereka terima ?

Menyembelih hewan kurban saat Idul Adha merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Orang yang menyembelih hewan kurban boleh memanfaatkan daging hewan tersebut untuk dimakan sebagian, dibagikan ke tetangga atau saudara, dan dibagikan ke fakir miskin. Kadangkala ada beberapa orang yang menjual daging kurban yang mereka dapat. Apakah hal tersebut diperbolehkan dalam syari’at ?

Hukum Menjual Daging Qurban

Bagi orang yang sudah berkurban maka ia tidak diperbolehkan menjual daging dari hewan tersebut. Hukumnya haram karena hewan yang telah disembelih adalah persembahan untuk Allah. Setelah hewan dikurbankan, manusia sebagai pemilik hewan tidak punya hak apapun terhadap hewan yang telah ia kurbankan.

hukum menjual daging qurban

Ini karena hewan tersebut sudah menjadi milik Allah Ta’ala. Sedangkan dalam Al Quran, Allah memerintahkan kita untuk memakan daging tersebut, bukan menjualnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al Hajj: 28)

Kesimpulannya, bagi orang yang sudah berkurban diharamkan baginya untuk menjual daging hewan tersebut. Ia hanya boleh membagikannya kepada 3 golongan yang berhak yaitu, dirinya sendiri dan keluarganya, tetangga atau kerabat dekat, dan fakir miskin.

Menjual Daging Kurban yang Sudah Dibagikan

Bagi pemilik hewan kurban atau orang yang berkurban ia tidak boleh menjual daging qurban tersebut. Sedangkan bagi orang yang mendapat pembagian daging kurban, maka ada perbedaan pendapat dari beberapa ulama. Beberapa ulama berpendapat bahwa hanya orang fakir miskin saja yang diperbolehkan menjual daging qurban yang mereka terima.

hukum menjual daging kurban

Fakir miskin diperbolehkan memanfaatkan daging kurban tersebut secara penuh. Artinya boleh untuk menjualnya dengan cara transaksi jual beli kepada muslim lainnya. Namun berbeda dengan fakir miskin, orang kaya atau masih memiliki kecukupan tidak boleh menjual daging kurban yang mereka dapatkan. Orang kaya atau mampu hanya boleh mengkonsumsi, disedekahkan kembali, atau menggunakan daging tersebut untuk menjamu tamunya.

Kenapa begitu ?

Karena kedudukan orang kaya atau mampu dianggap setara dengan pemilik hewan kurban. Oleh karena itu, mereka dikenakan hukum yang sama yaitu tidak boleh menjual daging kurban yang sudah didapat. Sedangkan bagi fakir miskin, diperbolehkan menjual daging kurban karena mungkin yang ia butuhkan bukan daging melainkan makanan pokok lain.

Seperti yang kita tahu, memasak daging membutuhkan biaya yang cukup besar. Jika fakir miskin merasa kesusahan untuk memasaknya maka ia boleh menjual daging tersebut dan uangnya digunakan untuk membeli beras, atau makanan lain yang lebih mudah dimasak.

Hukum Menjual Kulit Hewan Qurban

Mengenai hukum menjual kulit dari hasil qurban, hukumnya adalah haram. Dalilnya cukup kuat karena disebut secara tegas dalam hadits Rasulullah. Perihal menjual kulit hewan qurban, terdapat hadits khusus yang tegas melarangnya. Diriwayatkan Abu Hurairah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ

“Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya.” (HR. Al Hakim)

Hadits di atas dijadikan dalil diharamkannya menjual daging qurban bagi yang berkurban, begitu juga kulitnya. Jika dijual, konsekuensinya kurban tidak akan diterima oleh Allah.

Memberi Daging & Kulit Qurban Sebagai Upah Potong

Saat Idul Adha, kita sering melihat beberapa panitia kurban diberi bayaran berupa daging dan kulit sebagai upah untuk potong daging kurban. Meski dianggap biasa, namun ternyata hal ini keliru. Rasulullah melarang umatnya untuk memberi daging, kulit, dan bagian manapun daging kurban sebagai upah jasa potong. Dalam sebuah riwayat, Ali Radhiyallahu ‘Anhu berkata,

أَمَرَ نِي رَسُولُ اللّه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkanku agar aku mengurusi unta-unta qurban beliau, menshadaqahkan dagingnya, kulitnya dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Dan agar aku tidak memberikan sesuatupun (dari kurban itu) kepada tukang jagalnya. Dan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Kami akan memberikan (upah) kepada tukang jagalnya dari kami.” (HR Muslim No. 348)

Seharusnya ongkos atau upah jasa tukang jagal dan lainnya dibayar secara terpisah, bukan dengan hasil qurban. Jika sohibul qurban atau orang yang berkurban ingin memberikan hasil qurban sebagai sedekah, maka hal itu masih diperbolehkan. Karena pada dasarnya sedekah dan upah itu berbeda. Daging bisa diberikan setelah orang yang berkurban sudah membayar upah pekerja tersebut.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.