IslamKita
Home » Info Islam » Hukum Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak) Dalam Agama Islam

Hukum Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak) Dalam Agama Islam

Apa itu nikah mut’ah ? Apa hukum nikah mut’ah ? Nikah mut’ah atau nikah kontrak proses pernikahan yang hanya terjadi selama rentang waktu tertentu. Rentang waktu tersebut sudah disepakati oleh kedua belah pihak (suami dan istri). Praktik kawin kontrak ini banyak dilakukan oleh orang-orang Rafidhah (syi’ah).

Selain itu, beberapa turis dari timur tengah yang datang ke Indonesia terkadang melakukan praktik nikah kontrak saat berkunjung ke tempat wisata tertentu, misalnya puncak, Bogor. Rentang waktu nikah kontrak hanya seminggu, sebulan, atau setahun tergantung kesepakatan. Lalu apa hukum nikah mut’ah menurut Islam ?

Hukum Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak)

Nikah mut’ah atau disebut nikah muaqqot (nikah sementara) adalah bentuk pernikahan yang hanya terjadi dalam rentang waktu tertentu, misalnya 10 hari, seminggu, sebulan, atau 2 bulan. Dalam prosesnya, calon suami memberi biaya atau imbalan tertentu kepada wanita yang mau dinikah kontrak.

hukum nikah mutah

Hukum nikah mut’ah pada awal masa keislaman dihukumi halal, namun akhirnya dihapus dan diharamkan. Hukum nikah mut’ah kini diharamkan hingga hari kiamat. Adapun dalil dilarangnya nikah mut’ah adalah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Sabroh Al Juhaniy. Ia berkata bahwa saat di ikut berperang bersama Rasulullah untuk menaklukan kota Mekkah, ia berkata,

فَأَقَمْنَا بِهَا خَمْسَ عَشْرَةَ – ثَلاَثِينَ بَيْنَ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ – فَأَذِنَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى مُتْعَةِ النِّسَاءِ … ثُمَّ اسْتَمْتَعْتُ مِنْهَا فَلَمْ أَخْرُجْ حَتَّى حَرَّمَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Kami menetap selama 15 hari (kira-kira antara 30 malam atau 30 hari). Awalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah dengan wanita. … Kemudian aku melakukan nikah mut’ah (dengan seorang gadis). Sampai aku keluar Mekkah, turunlah pengharaman nikah mut’ah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim no. 1406)

Dalam riwayat yang lain, Sabroh Al Juhaniy juga menyebutkan bahwa, Rasulullah bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِى الاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Wahai sekalian manusia. Awalnya aku mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah dengan para wanita. Sekarang, Allah telah mengharamkan (untuk melakukan mut’ah) hingga hari kiamat.” (HR. Muslim No. 1406)

Nikah mut’ah atau kawin kontrak adalah pernikahan yang tidak sah. Oleh karena itu, pasangan yang menikah secara mut’ah wajib berpisah.

Hukum Nikah dengan Niat Cerai di Waktu Tertentu

Nikah mut’ah adalah pernikahan yang didahului dengan perjanjian akan berakhir pada rentang waktu tertentu. Lalu bagaimana jika ada seorang pria atau wanita yang berniat menikah lalu bercerai pada waktu tertentu tanpa diketahui pasangannya ? Hal ini dianggap berbeda dari nikah mut’ah. Menurut pandangan beberapa ulama, hukum nikah ini tetap sah.

Kebanyakan ulama berpendapat jika seseorang menikah dan tidak membuat syarat untuk bercerai pada waktu tertentu maka hukum nikah tersebut tetap sah. Kenapa ? Alasannya karena hal tersebut hanya berupa niat, bisa saja terjadi namun bisa juga tidak. Jika orang yang berniat tersebut mau bertobat, pasti ia akan mengurungkan niatnya. Para ulama bersepakat, bahwa jika ada seseorang yang niat menikah untuk sementara waktu dan tidak diketahui oleh pasangannya, maka ia termasuk orang yang memiliki akhlak buruk.

Hikmah Diharamkannya Nikah Mut’ah

Hukum nikah mut’ah adalah haram karena Rasulullah sendiri yang melarangnya. Secara bahasa, mut’ah berarti mendapatkan manfaat atau kelezatan. Praktik kawin kontrak ini biasa dilakukan oleh orang-orang syi’ah yang ingin mendapatkan kepuasan seksual dari wanita lain dengan cara mengakali syariat agama Islam. Secara praktik, nikah mut’ah sangat merugikan kaum perempuan.

hukum kawin kontrak

Nikah mut’ah memposisikan wanita sebagai pekerja seks komersial “halal.” Meskipun wanita mendapat harta yang diberi oleh pria, namun itu sama saja seperti PSK yang rela menjajakan tubuhnya kepada pria lain dengan imbalan uang. Ditambah lagi, seorang pria yang berniat nikah mut’ah pastinya tidak ingin memiliki anak dari pasangannya tersebut. Niat nikah mut’ah hanya untuk pelarian kepuasan syahwat selagi tinggal jauh dari istri sahnya.

Beruntungnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengharamkan praktik nikah mut’ah. Ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari diharamkannya kawin kontrak, yaitu:

  • Melindungi wanita, karena wanita bukanlah objek pemuas syahwat saja
  • Menghilangkan praktik pelacuran yang dibalut dalam bingkai pernikahan
  • Mencegah bercampurnya nasab anak yang lahir dari hasil nikah mut’ah
  • Membantu mencegah penyebaran mudarat lebih luas seperti penyakit seksual yang menular.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.