IslamKita
Home » Tokoh Islam » Imam Asy Syafi’i: Kisah Hidup Ahli Hukum Sunnah Termasyhur

Imam Asy Syafi’i: Kisah Hidup Ahli Hukum Sunnah Termasyhur

Imam Asy Syafi’i adalah ulama besar pendiri mahzab Syafi’i. Ia memiliki nama asli Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Ia masih kerabat dekat dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia termasuk dalam Bani Muthalib atau keturunan dari Al Muthalib yakni saudara dari Syaibah bin Hasyim yang merupakan kakek dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Kisah Masa Kecil Imam Asy Syafi’i

Muhammad bin Idris Asy Syafi’i memiliki ayah bernama Idris bin Abbas dan ibunya bernama Fatimah Al Azdiyyah. Saat masih di dalam kandungan, ayah dan ibunya bepergian menuju kampung halamannya di Gaza, Palestina. Saat mengetahui istrinya sedang mengandung, ayah Syafi’i berkata, “Jika engkau melahirkan seorang putra, akan aku namai Muhammad dan aku panggil dengan nama kakeknya yaitu Syafi’i bin Asy Syaib.”

imam asy syafi'i

Fatimah melahirkan di Gaza, dan sesuai dengan keinginan ayahnya, anak itu dinamakan Muhammad dan dilanjut dengan panggilan “Asy-Syafi’i.” Idris bin Abbas meninggal dunia saat Imam Syafi’i masih berusia 2 tahun. Idris bin Abbas meninggal dunia saat perjalanan dari Mekkah ke Gaza untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Setelah suaminya meninggal, Fatimah membawa kembali Syafi’i ke Mekkah supaya bisa dibesarkan bersama suku dari Bani Al Muthalib.

Tinggal di Mekkah

Di Mekkah, Fatimah tinggal bersama Syafi’i dalam lindungan keluarga suaminya (Bani Al Muthalib). Dia berusaha membesarkan putranya dengan memberi pendidikan terbaik dan penuh kasih sayang. Syafi’i muda tumbuh dengan jiwa yang matang, damai, dan memiliki etika yang hebat. Ibunya yang hebat mengajari anaknya Al Quran, membaca, menulis, dan semua dasar-dasar pendidikan dengan baik.

Saat menempuh pendidikan dasar, Asy Syafi’i muda sudah menunjukan bakat kecerdasannya. Dia sangat cepat mempelajari apapun yang dia dengar dan dibacakan oleh gurunya. Setiap hari di sekolah, pengetahuannya semakin meningkat seiring dengan semangatnya untuk belajar lebih banyak.

Semakin hari, gurunya semakin menyayangi Imam Syafi’i kecil. Suatu hari gurunya berkata, “anakku, kamu sangat pintar dan pandai sampai-sampai aku tidak bisa sepadan dengan upah apapun. Yang saya butuhkan dari Anda adalah mengajar atas nama saya saat saya tidak ada.” Ucapan dari gurunya membuat Syafi’i semakin semangat hingga akhirnya dia berhasil menyelesaikan hafalan Al Quran di usia 7 tahun.

Setelah anaknya bisa menyelesaikan hafalan Al Quran, Fatimah mulai berpikir bagaimana dia bisa mengarahkan anaknya yang pintar ke arah yang lebih baik. Akhirnya dia mengirim anaknya untuk belajar di sekitar Masjid Suci Mekkah. Saat belajar dengan banyak ulama, Syafi’i kecil tidak memiliki banyak uang untuk membeli kertas. Sebagai gantinya, dia menggunakan perkamen, daun pohon palem, dan tulang bahu unta.

Imam Syafi’i Mendalami Budaya dan Bahasa Arab

Selama periode awal pencarian ilmu pengetahuan, Imam Syafi’i menyadari pentingnya mempelajari bahasa Arab klasik dari sumber yang murni untuk memahami Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan lebih baik.

Imam Syafi’i pergi ke suku Huthayl yang merupakan salah satu suku Arab paling fasih. Dia tinggal bersama di tengah suku tersebut selama bertahun-tahun. Syafi’i banyak belajar tentang kefasihan bahasa Arab klasik, menghafal karya puisi, mempelajari biografi orang Arab dari era sebelum dan sesudah Islam. Selain belajar ilmu bahasa Arab klasik, dia belajar tentang cara memanah. Hingga akhirnya dia menjadi seorang kesatria pemberani yang tidak tertandingi dan tidak pernah meleset dari targetnya.

Belajar Fiqih dan Hadits

Untuk memperdalam ilmu pengetahuannya, Imam Syafi’i muda berguru pada Mufti Agung (Ahli Hukum Agama) yang menjadi guru pertamanya dalam hal Fiqih (Hukum Islam). Dia juga belajar hadits di bawah pengawasan Sufyan bin Uyaynah. Dalam waktu singkat, Imam Asy Syafi’i menjadi semakin terkenal sebagai ulama Islam yang sangat baik.

Pembimbingnya (Muslim bin Khalid) memberi izin Imam Syafi’i untuk menjawab pertanyaan seputar agama ketika dia berusia 15 tahun. Mentornya berkata, “Hai Muhammad (Imam Asy Syafi’i) ! berikan fatwa dan jawab pertanyaan orang-orang. Demi Allah ! Sekarang adalah waktu yang tepat untukmu memberi fatwa. Gurunya, Sufyan bin Uyaynah biasa menyuruh orang-orang yang bertanya kepadanya untuk bertanya kepada Syafi’i, dia berkata, “Tanya anak ini.”

Imam Asy Syafi’i Berguru Pada Imam Malik

Saat belajar di Mekkah, Imam Syafi’i mendengar tentang seorang ulama tersohor di Madinah bernama Imam Malik bin Anas. Dia ingin menjadi murid Imam Malik. Namun ia sadar bahwa ia tidak bisa pergi ke begitu saja menemui Imam Malik tanpa persiapan apapun. Imam Asy Syafi’i akhirnya memutuskan untuk menghafal buku Imam Malik yang terkenal yaitu Al Muwatta. Buku tersebut berhasil dihapalkan dalam waktu 9 hari.

Setelah menghapal Al Muwatta, ia segera pergi ke rumah Imam Malik di Madinah. Syafi’i berbicara dengan sopan, bahwa dia ingin menjadi muridnya. Imam Malik memandang Syafi’i lama sekali, lalu ia berkata, “Wahai anakku, Insya Allah Anda akan memiliki masa depan yang cerah. Besok datanglah kepadaku bersama orang yang dapat membaca kitab Al Muwatta karena saya khawatir Anda tidak akan bisa membacanya sendiri.” Imam Asy Syafi’i pun menjawab, “Imam, aku akan membacanya sendiri dari ingatanku tanpa melihat buku.”

Imam Asy Syafi’i berguru kepada Imam Malik dalam waktu yang cukup lama. Imam Malik sangat mencintainya, sampai pada tahun 179 Hijriah setelah Imam Malik wafat, Syafi’i kembali ke Mekkah dengan membawa banyak ilmu. Setelah itu, dia menikah dengan Hamidah binti Nafi’ yang merupakan cucu dari Khalifah Utsman bin Affan dan memiliki 2 orang putra dan putri.

Imam Asy Syafi’i Menulis Buku Ar Risalah

Imam Asy Syafi’i biasa mengajar di halaman sumur Zam Zam dan di samping maqam Nabi Ibrahim alaihissalam. Namanya sangat terkenal hingga di luar Mekkah. Bahkan namanya terkenal hingga mencapai Irak. Seorang ulama Irak, Abdur Rahman bin Mahdi mengirimi Asy Syafi’i surat yang memintanya untuk menulis buku tentang bukti undang-undang dari Al Quran, Sunnah, Ijtihad Ulama, serta masalah lain yang menjadi dasar ilmu Fiqih.

imam asy syafi'i buku ar risalah

Imam Asy Syafi’i lalu menulis sebuah buku yang dia beri judul “Ar Risalah.” Buku ini jadi referensi pertama tentang sumber ilmu hukum Islam atau Fiqih. Pada tahun 195 Hijriah, Imam Asy Syafi’i melakukan perjalanan ke Baghdad untuk kedua kalinya. Ia mengajar di sana selama 2 tahun. Banyak yang berguru kepadanya, salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali). Imam Hambali berkata, “Jika bukan karena Imam Asy Syafi’i, aku tidak akan pernah tahu tentang pemahaman hadits.”

Akhir Hidup Imam Asy Syafi’i

Pada tahun 199 Hijriah, Syafi’i pergi ke Mesir dan berusaha menyebarkan ilmunya di sana. Menjelang akhir hidupnya, Syafi’i menderita penyakit berat. Penyakitnya ini ia derita selama 4 tahun. Namun itu tidak membuatnya berhenti mengajar. Ketika pulang, dia terus memaksa dirinya untuk mengabaikan rasa sakit dan terus menulis, mengedit, dan mengoreksi kitab Hujjah yang dia tulis di Irak.

Setelah menyelesaikan pekerjaanya, Syafi’i mengganti nama bukunya menjadi Al Umm (Ibu). Suatu hari, muridnya berkunjung dan bertanya, “Bagaimana perasaanmu pagi ini wahai Imam ?” Asy Syafi’i menjawab, “Aku merasa bahwa aku sedang melakukan perjalanan jauh dari dunia ini, jauh dari saudara, dan mendekati Allah yang Maha Esa.” Dia melanjutkan, “Demi Allah aku tidak tahu apakah jiwaku akan pergi ke surga sehingga aku bisa mengucap selamat, atau ke neraka agar aku bisa meratap.”

Pada hari Jumat di bulan Rajab pada tahun 204 Hijriah, Imam Asy Syafi’i meninggal dunia. Dia dimakamkan di pemakaman Qurashiyen di tengah pemakaman Banu Al Hakam di Mesir.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.