IslamKita
Home » Tokoh Islam » Imam Bukhari: Ulama Hadits dengan Daya Ingat Luar Biasa

Imam Bukhari: Ulama Hadits dengan Daya Ingat Luar Biasa

Imam Bukhari memiliki nama asli Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari. Ia diberi nama Muhammad oleh ayahnya Ismail bin Ibrahim. Panggilan Imam Bukhari merujuk kepada asal tempat lahir dan tinggalnya. Ia lahir di kota Bukahara (Uzbekistan) pada tahun 194 Hijriah/180 Masehi. Ulama yang sering memanggilnya dengan nama asli adalah Imam Tirmidzi.

imam bukhari
Gambar sekedar ilustrasi.

Masa Kecil Imam Bukhari

Bukhari dididik di tengah keluarga yang religius. Ayahnya bernama Ismail bin Ibrahim. Ayah Bukhari adalah seorang yang wara’ atau berhati-hati dalam menyikapi hal yang hukumnya syubhat (meragukan). Ayahnya adalah seorang ulama yang bermazhab Maliki dan ia adalah murid dari Imam Malik. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

Sewaktu kecil, Imam Bukhari dan kawan-kawannya sering belajar membaca, menulis, dan mempelajari Al Quran dan Hadits. Saking giatnya belajar, Imam Bukhari sempat mengalami kebutaan. Dia mengalami rasa sakit yang amat sangat pada kedua matanya, sampai akhirnya dia mengalami kebutaan. Namun kebutaan tidak menghalangi dia terus belajar karena dia memiliki daya ingat yang sangat kuat. Hal ini diakui sendiri oleh kakaknya, yaitu Rasyid bin Ismail.

Kisah Imam Bukhari Sembuh dari Kebutaan

Bukhari memiliki seorang ibu yang sangat menyayanginya. Setiap saat ibunya selalu berdoa kepada Allah agar menyembuhkan penglihatan mata anaknya. Hingga suatu malam, ibunya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim alaihissalam. Di dalamnya, beliau berkata, “Wahai wanita, Allah telah memulihkan penglihatan anakmu karena doamu.” Selanjutnya, ibu Bukhari berkata, “Ya Allah buatlah kabar gembira. Ya Allah jawablah doaku dan pulihkan pandangan anakku.”

Ibunya berjalan menuju Bukhari kecil yang sedang tidur. Ketika dia mencapai tempat tidur anaknya, dia lalu membangunkan Bukhari dengan perasaan ragu-ragu. Ibunya terus membelai kepala anaknya dengan lembut sampai tangannya bergetar. Dia masih terus berdoa dan berharap Allah akan menjawab doanya. Bukhari lalu terbangun dan mulai melihat keheranan dan menggerakan kelopak matanya. Bukhari berkata, “Ibu aku bisa melihatmu ! Aku bisa melihat wajah cantikmu !” Aku bisa melihat kamarku dan mainanku !”

Bukhari bersyukur kepada Allah, “Segala puji bagi Allah yang sempurna. Segala puji bagi Allah yang sempurna. Allah telah mengembalikan penglihatanku.”

Bukhari Mulai Belajar Hadits

Suatu hari ketika ibu Bukhari merapikan rumah di pagi hari. Dia menemukan beberapa kerta yang berisi riwayat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Seketika dia teringat suaminya dan berkata dengan sedih sambil menyeka air matanya, “Semoga Allah mengasihi kamu, ayah Muhammad. Kamu adalah pria yang dulu takut kepada Allah. Kamu sudah lama bermimpi anakmu Muhammad akan menjadi seorang ulama. Aku berjanji kepadamu akan melakukan yang terbaik untuk mencapai keinginanmu. Insya Allah.”

Setelah itu, ibunya memanggil Bukhari dan berkata, “Sudah waktunya bagimu anakku untuk mencari ilmu agama dan bermanfaat bagi dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu. Besok aku akan mengirimmu ke sekolah di mana kamu bisa menghapalkan Al Quran, mempelajari riwayat Nabi dan belajar bahasa Arab untuk menjadi ulama terhormat seperti ayahmu, Ismail. Semoga Allah mengasihi dia.”

Daya Ingat yang Luar Biasa

Semasa mudanya Imam Bukhari menimba ilmu di kota Bukhara. Di kota ini, dia belajar bahasa Arab, Al Quran, sejarah, dan fiqih (hukum syariat Islam). Saat menimba ilmu dia telah menunjukan bakat kecerdasan yang luar biasa. Dia memiliki daya pikiran yang tajam, hati yang penuh perhatian, ingatan luar biasa, dan kemampuan menghapal yang sangat baik.

imam al bukhari
Gambar sekedar ilustrasi.

Sebelum usia 10 tahun, dia telah menghapal Al Quran, menguasai bahasa Arab, mempelajari Fiqih, dan hapal semua riwayat nabi dan rasul. Ibunya lalu mengirim Bukhari belajar di lingkungan studi terkenal di Bukhara, Samarkand, Bekend, Marw, dan Nesabor. Kecerdasannya sangat terkenal di antara para cendekiawan. Bahkan dia pernah berdebat dengan prosefor hingga mengoreksi mereka.

Kesuksesan Imam Bukhari tak sampai situ saja. Syekh dan gurunya seperti Muhammad Bin Salam Al Bekandy, ulama dari Buhara, dan ulama khusus riwayat nabi di Transoxania (Turkistan) sering meminta Bukhari untuk merevisi beberapa bukunya dan mengoreksi kesalahan apapun yang ditemukan.

Imam Bekandy sering menceritakan kepada rekan-rekannya tentang Imam Bukhari. Bukhari telah menghapal 70 ribu riwayat Nabi. Selain itu, Bukhari tidak pernah menceritakan riwayat para sahabat  radhiyallahu ‘anhum kecuali dia juga menceritakan kapan dan di mana sahabat dilahirkan, serta di mana para sahabat tersebut tinggal dan wafat.

Imam Bukhari sangat senang mengunjungi Madinah dan Mekah. Di kedua tempat itu, Bukhari selalu berusaha mengunjungi semua tempat yang berkaitan dengan sejarah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dia juga pernah melakukan perjalanan ke Hijaz (Arab Saudi), Levant (Suriah, Yordania, Palestina, dan Lebanon), Mesir, dan Khurasan (Iran, Rusia Selatan, Afghanistan Barat). Ia juga pernah mengunjungi Basrah dan menetap lama di Baghdad yang merupakan ibukota Abbasiyah.

Dia senang bertemu dengan banyak perawi hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, duduk bersama mereka, mendengarkan narasi, dan menghapal pengetahuan apapun yang mereka miliki.

Kitab Shahih Al Bukhari

Setelah kerja kerasnya selama 16 tahun, Imam Bukhari akhirnya menyelesaikan buku yang terdiri dari 7000 riwayat otentik yang dia pilih dari 600.000 riwayat otentik dan non otentik. Dia menamai bukunya dengan judul “Buku Otentik yang Meliputi Narasi Otentik Singkat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, Tradisi dan Kehidupannya.” Saat ini buku itu dikenal sebagai “Kitab Shahih Al Bukhari.”

kitab shahih imam bukhari
Gambar sekedar ilustrasi.

Karya Imam Bukhari yang terkenal ini membuat banyak ulama mendatanginya. Terhitung orang-orang yang belajar menghapal riwayat otentik Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dari Shahih Al Bukhari di Baghdad bisa mencapai 20.000 orang. Beberapa murid luar biasa yang pernah belajar dengan Imam Bukhari adalah: Imam At Tirmidzi, Imam An-Nasa’i, dan Imam Muslim.

Wafatnya Imam Bukhari

Setelah mencapai kesuksesan dan kedamaian dalam hidupnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mentakdirkan ulama besar ini untuk menemui penciptanya. Pada suatu hari, orang-orang dari Samarkand mengirim pesan pada Bukhari untuk memintanya datang. Dia sangat senang dan segera berkemas dengan gembira. Namun ketika dia hendak menuju hewan tunggangannya, Imam Bukhari berkata, “Bawa aku kembali, aku telah menjadi lemah dan sangat sakit.”

Ketika orang-orang terdekatnya membawa Imam Bukhari ke rumahnya, beliau mengucapkan beberapa wasiat sebelum dia kembali ke tempat tidurnya. Dalam kondisi badan lemah dan banyak berkeringat, dia kembali menghadap penciptanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Imam Bukhari meninggal dunia pada bulan Syawal tahun 256 Hijriah/870 Masehi. Saat wafat, ia berumur 62 tahun. Dia dimakamkan di sebuah desa bernama Khartank. Hingga kini, namanya tetap abadi dan kitabnya tetap menjadi ladang amal untuk orang-orang yang ingin belajar hadits.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.