IslamKita
Home » Tokoh Islam » Imam Malik: Kisah Ulama Mazhab dan Kiprah Pendidikannya

Imam Malik: Kisah Ulama Mazhab dan Kiprah Pendidikannya

Secara umum, seluruh umat muslim di dunia terbagi menjadi 4 mazhab. Setiap umat muslim mengikuti Mazhab yang dia pilih untuk menentukan hukum syariat dan tata cara ibadah. Beberapa negara yang di umat muslimnya mengikuti mazhab Imam Malik (Mazhab Maliki) adalah Mesir, Tunisia, Maroko, hingga Andalusia (Spanyol).

imam malik bin anas

Imam Malik memiliki nama lengkap Malik bin Abas bin Malik bin Amr Al Asbahi. Ia juga dikenal dengan nama Malik bin Anas. Ia lahir di Madinah pada tahun 93 Hijriah atau 711 Masehi.

Imam Malik Belajar di Madinah

Ibu Imam Malik menasehati anaknya untuk bergabung di universitas Islam pertama, yaitu di Masjid Nabawi di Madinah. Di sana ia mulai menghafal Al Quran dan hadits. Dia mulai menimba ilmu di saat materi pendidikan menulis masih langka. Saat itu, pelajar harus memiliki ingatan yang kuat untuk berkonsultasi dan menyimpan ilmu pengetahuan yang mereka dapat.

Malik bin Anas memiliki kebiasaan mengikat sebuah simpul tali untuk setiap hadits yang dia ingat. Pada suatu hari dia menghadiri sebuah sesi di mana dia harus mengingat 30 hadits yang dibahas dan didiskusikan. Ketika sesi belajar selesai, dia ternyata melupakan salah satu hadits. Karena hal ini, dia langsung mengejar gurunya untuk mempelajari hadits yang dia lupakan. Gurunya pun kembali mengajari hadits yang dia lewatkan.

Imam Malik Mengajar di Masjid Nabawi

Sebagai seorang ulama terkemuka, ia terbiasa membahas berbagai masalah tentang keimanan bersama rekan dan para ulama yang datang ke Madinah saat musim haji. Imam Malik atau Malik Bin Anas mulai mengajar di Masjid Nabawi sejak usia sekitar dua puluhan.

Malik bin Anas sebagai guru di Masjid Nabawi sangat menghormati hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Sebelum Imam Malik mulai mengajar hadits, dia akan mandi dan memakai pakaian terbaik lebih dulu. Dia juga tidak memperbolehkan siapapun meninggikan suaranya saat belajar. Disebutkan juga ia tidak pernah menaiki kendaraan di kota Madinah, tempat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam dimakamkan.

Imam Malik dan Khalifah Harun Ar Rasyid

Selama masa hidupnya, Imam Malik sudah menyaksikan perubahan dinasti dari Umayah ke Abbasiyah. Dia sudah bertemu dengan banyak khalifah yang begitu menghormatinya berkat ilmu dan nasihatnya yang tulus. Ketika masa khalifah Harun Ar Rasyid, sang penguasa tertarik dengan kitab yang disusun Imam Malik, yaitu Al Muwatta. Harun mengirim menterinya untuk menjemput Imam Malik untuk membacakan kitab tersebut di hadapannya.

imam malik al muwatta

Imam Malik menolaknya dengan sopan. Ia berkata, “Sampaikan salamku kepada Khalifah, dan katakan padanya bahwa ilmu harus dikunjungi dan ilmu tidak boleh mengunjungi orang. Orang harus menjemput ilmu, dan ilmu tidak datang sendiri.”

Mendengar penolakan tersebut, sang penguasa berbalik menyalahkannya karena tidak patuh. Namun dia berkata, “Wahai pemimpin yang beriman, Allah yang Maha Kuasa telah mengangkatmu ke posisi yang terhormat ini. Jangan menjadi orang pertama yang merendahkan tempat dan menghina martabat ilmu agar Allah tidak merendahkan tempat Anda. Saya tidak membangkang Anda, tetapi saya ingin pemimpin beriman yang memiliki rasa hormat agar Allah dapat menangkat derajatnya.”

Mendengar nasihatnya, Harun Ar Rasyid tersadar dan berjalan mengikuti Imam Malik ke rumahnya lalu belajar dan mendengar tentang isi kitab Al Muwatta.

Ulama yang Rendah Hati

Selain memiliki pengetahuan yang luas, Malik bin Anas adalah orang yang rendah hati dan apa adanya. Dia terus menekankan kepada murid-muridnya bahwa kata penting yang harus berani dikatakan oleh pelajar sejati adalah “Saya tidak tahu.”

Suatu hari ada seorang pria mendatangi Malik bin Anas. Dia sudah melakukan perjalanan selama 6 bulan untuk menanyakan masalahnya. Setelah ditanya, Malik tidak bisa menemukan jawab yang memuaskan. Jadi dengan rendah hati dia berkata kepada pria itu, “Saya tidak tahu.”

Pria itu terkejut dan berkata, “Apa yang harus saya katakan kepada rakyat saya ketika saya pulang.” Malik bin Anas berkata, “Katakan kepada mereka, Malik bin Anas tidak tahu.”

Dia merasa bertanggung jawab terhadap solusi atau jawaban yang diberikan. Meskipun dia telah mengumpulkan lebih dari 100 ribu hadits dan belajar dari guru ternama tentang masalah agama, namun itu tidak membuatnya tergesa-gesa dalam memutuskan fatwa. Saking hati-hatinya, biasanya dia meminta orang yang bertanya untuk menunggu beberapa saat sebelum dia memberi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Kitab Al Muwatta

Kitab Al Muwatta adalah buku yang ditulis oleh Imam Malik. Buku ini dikatakan sebagai kompilasi hukum islam yang terbaik mengenai syariat agama Islam. Kitab tersebut disusun selama kurang lebih 40 tahun. Saat ini kitab Al Muwatta dijadikan rujukan oleh jutaan umat muslim di Afrika Utara, beberapa negara timur tengah, dan di negara yang mengikuti Mazhab Maliki.

Imam Malik Wafat

Saat menjelang wafatnya, Imam Malik terlihat tidak lagi mendatangi masjid Nabawi selama 7 tahun. Ketika ia ditanya mengenai hal tersebut, dia menjawab, “Seandainya bukan karena akhir dari kehidupan saya di dunia, dan awal kehidupan akhirat, aku tidak akan memberitahu hal ini pada kalian. Yang menghalangiku pergi ke masjid adalah karena penyakit sering buang air kecil. Karena sebab ini aku tak sanggup mendatangi Masjid Rasulullah.”

Imam Malik jatuh sakit pada usia ke-84. Ia meninggal dunia pada tahun 179 Hijriah atau 800 Masehi. Sesuai wasiatnya ia dikafani dengan kain putih, lalu disalati di atas keranda. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.