IslamKita
Home » Info Islam » Keutamaan Suami Memberi Nafkah untuk Keluarga & Orang Tua

Keutamaan Suami Memberi Nafkah untuk Keluarga & Orang Tua

Suami atau Ayah adalah pemimpin dalam rumah tangga yang bertanggung jawab memberi nafkah keluarga. Alasannya, karena Allah memberi kelebihan bagi laki-laki dibanding perempuan, misalnya tenaga fisik. Dalil kewajiban suami untuk menafkahi istri adalah firman Allah Ta’ala pada Al Quran, yaitu:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An Nisa: 34)

Karena laki-laki telah Allah berikan kelebihan, maka dari itu sepantasnya laki-laki yang harus menakfkahi keluarga mereka. Posisi laki-laki lebih utama untuk memberi nafkah keluarga dibanding istri.

Kewajiban Suami untuk Memberi Nafkah Keluarga

Selain di surat An Nisa ayat 34, dalil diwajibkannya suami untuk memberi nafkah keluarga ada di banyak ayat lainnya. Menafkahi istri dan keluarga bersifat wajib bagi suami. Beberapa dalilnya adalah:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah: 233)

hukum memberi nafkah keluarga

Dalil lain mengenai kewajiban suami atau orang yang diberi kelebihan untuk memberi nafkah keluarga adalah:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. At Talaq: 7)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui haditsnya mewajibkan suami untuk menafkahi istri. Diriwayatkan bahwa suatu hari Hindun binti Utbah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengadukan kesulitan karena suaminya tidak memberi nafkah yang cukup untuk anak-anaknya. Ia terpaksa mengambil harta suaminya diam-diam untuk mencukup kebutuhannya. Maka Rasulullah bersabda kepadanya,

خُذِي مَا يَكْفِيْكِ وَ وَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ

Ambillah (dari harta suamimu) apa yang mencukupimu dan anak-anakmu dengan cara yang baik. (HR. Bukhari No. 5364)

Hadits di atas menjelaskan bahwa suami seharusnya memberi nafkah keluarga dengan cukup. Jangan terlalu pelit kepada keluarga sendiri. Jika suami terlalu pelit memberi nafkah, istri diperbolehkan mengambil harta suami hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Tidak diperbolehkan mengambil dalam jumlah berlebihan karena menurut cerita di atas, harta diambil secara diam-diam.

Keutamaan Suami Memberi Nafkah Istri & Keluarga

Memberi nafkah keluarga adalah salah satu amalan ringan yang bisa dilakukan oleh suami. Meskipun ringan, namun pahalanya sangat besar. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi).” (HR. Muslim, no. 995)

Menurut hadits di atas, nafkah yang diberikan suami kepada keluarga, nilai pahalanya lebih besar dibanding pahala bersedekah di jalan Allah, memerdekakan budak, dan membantu orang muskin. Namun bagaimana jika suami tidak mau memberi nafkah keluarga ? Sesuai hadits Rasulullah mengenai peristiwa yang dialami Hindun binti Utbah di atas, istri diperbolehkan mengambil harta suami secara diam-diam asalkan jumlah yang diambil hanya secukupnya saja.

Menafkahi Keluarga atau Orang Tua, Mana yang Lebih Utama ?

Saat orang tua sudah udzur dan kita diberi kesanggupan untuk mencari rezeki, maka kita diwajibkan untuk memberi nafkah kepada orang tua. Bahkan kewajiban memberi nafkah orang tua lebih diprioritaskan dibanding memberi nafkah kepada kaum dhuafa. Karena prinsip memberi nafkah adalah memberi kepada orang yang paling dekat. Memberi nafkah kepada orang tua juga merupakan salah satu bentuk berbakti kepada orang tua.

suami memberi nafkah keluarga

Lalu bagaimana jika suami harus memberi nafkah kepada orang tua dan keluarga ? Siapa yang harus lebih diutamakan ? Jawabannya adalah tergantung siapa yang lebih membutuhkan. Kalau keluarganya lebih kekurangan, maka ia bisa mengutamakan keluarganya. Jika sebaliknya, maka ia bisa lebih mengutamakan orang tuanya. Jika nafkah yang diberikan jumlahnya terbatas, maka ia bisa membaginya untuk keluarga dan orang tuanya.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.