IslamKita
Home » Belajar Islam » 5 Hal yang Membatalkan Puasa Serta Dalil Shahihnya

5 Hal yang Membatalkan Puasa Serta Dalil Shahihnya

Apa yang membatalkan ibadah puasa ? Ada beberapa hal yang bikin batal puasa. Beberapa dari penyebab tersebut mungkin banyak yang belum tahu. Puasa adalah salah satu ibadah yang punya nilai pahala besar. Saking besarnya pahala puasa, hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sendirilah yang akan membalasnya.

Selain puasa wajib yang dilaksanakan di bulan Ramadhan, ada juga ibadah puasa yang bersifat sunnah, seperti: puasa senin kamis, puasa ayyamul bidh, hingga puasa syawal. Selain ini, masih banyak puasa sunnah yang bisa dikerjakan.

batal puasa

Apapun jenis puasa yang kamu lakukan, hukum yang membatalkan puasa tetap sama. Walaupun kamu sedang puasa senin kamis, atau puasa di bulan Ramadhan, beberapa hal ini bisa menyebabkan puasa batal, yaitu:

1. Sengaja Makan dan Minum Membatalkan Puasa

Cara menjalankan puasa sangat simpel, kita hanya diminta untuk tidak makan dan minum serta menahan hawa nafsu mulai dari terbit fajar hingga tenggelam matahari. Karena aturan utama puasa adalah tidak makan dan minum, tentu saja jika kamu makan dan minum dengan sengaja maka akan membatalkan puasa.

membatalkan puasa

Makan dan minum yang dimaksud adalah memasukan apa saja ke dalam tubuh melalui mulut, mulai dari makan makanan, minum air atau jenis minuman lainnya, minum khamr (alkohol), merokok, bahkan jika memasukan sesuatu yang tidak berguna ke dalam tubuh seperti kayu, batu, dan besi juga akan membatalkan puasa. Dalil makan dan minum membuat batal puasa adalah firman Allah Ta’ala pada Al Quran, yaitu:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS. Al Baqarah: 187)

Lalu bagaimana jika kita lupa dan tidak sengaja terlanjur makan dan minum ? Maka jawabannya tidak membuat puasa. Begitu juga dengan orang yang dipaksa makan padahal dia tetap ingin berpuasa, maka jawabanya juga tidak membuat batal puasa. Dalilnya adalah 2 hadits Rasulullah berikut:

إِذَا نَسِىَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Apabila seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, hendaklah dia tetap menyempurnakan puasanya karena Allah telah memberi dia makan dan minum. (HR. Bukhari, No. 1933)

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Sesungguhnya Allah menghilangkan dari umatku dosa karena keliru, lupa, atau dipaksa. (HR. Ibnu Majah, No. 2045)

2. Muntah dengan Sengaja Bikin Batal Puasa

Muntah dengan sengaja juga bisa membuat orang batal puasa. Namun jika seseorang dipaksa muntah sedangkan ia masih berpuasa maka tidak akan membatalkan puasanya. Dalil mengenai hal ini adalah hadits shahih Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berikut ini:

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

Barangsiapa yang dipaksa muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qodho baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qodho. (HR. Abu Daud, No. 2380)

3. Sengaja Mengeluarkan Air Mani (Sperma)

Yang dimaksud mengeluarkan air mani (sperma) dengan disengaja adalah mengeluarkannya tanpa melalui hubungan seksual (jima’). Mengelurkan sperma dengan tangan, menggesek-gesekan kemaluan pada suatu benda anggota tubuh pasangan, atau menyentuh dan dicium kemaluannya membuat puasa batal. Mengeluarkan mani dengan sengaja termasuk perbuatan syahwat, jika kamu sengaja melakukannya maka kamu gagal menahan diri dari hawa nafsu.

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى

(Allah Ta’ala berfirman): ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku. (HR. Bukhari, No. 1894)

4. Puasa Batal Karena Berhubungan Seks di Siang Hari

Berhubungan seksual (jima’) dengan suami atau istri di siang hari saat berpuasa juga akan membuat puasa batal. Jika ibadah puasa yang dilakukan adalah wajib (puasa Ramadhan) maka ia wajib untuk menggantinya setelah Ramadhan usai. Sedangkan jika ia melakukan puasa sunnah maka puasa pada hari itu batal dan ia tidak wajib menggantinya karena hukum puasanya adalah sunnah.

Selain harus mengganti puasa di hari lain, orang yang berhubungan badan dengan suami atau istri pada siang hari bulan Ramadhan juga harus menuaikan kafaroh. Kafaroh yang harus dikeluarkan adalah:

  • Membebaskan seorang budak
  • Jika tidak mampu, boleh diganti dengan puasa 2 bulan berturut-turut, atau
  • Jika tidak mampu, boleh diganti dengan memberi makan 60 orang miskin sebanyak 1 mud atau 1 porsi kali makan.

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ . قَالَ « مَا لَكَ » . قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ » . قَالَ لاَ . فَقَالَ « فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا » . قَالَ لاَ . قَالَ فَمَكَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ – وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ – قَالَ « أَيْنَ السَّائِلُ » . فَقَالَ أَنَا . قَالَ « خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ » . فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا – يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ – أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى ، فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ « أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ »

Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu. (HR. Bukhari, No. 1936)

Mengenai siapa yang wajib membayara kafaroh adalah suami. Karena membayar denda kafaroh menggunakan hak harta suami, sehingga suami lah yang harus membayarnya.

5. Keluar Haid atau Nifas Membatalkan Puasa

Hal terakhir yang membuat batal puasa adalah keluarnya darah haid atau nifas (darah yang keluar dari rahim setelah melahirkan). Jika haid atau nifas keluar ketika kamu sedang berpuasa, maka secara otomatis menyebabkan batalnya puasa. Jika batal karena haid atau nifas, maka kamu hanya perlu menggantinya di hari lain (khusus puasa wajib bulan Ramadhan).

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ » . قُلْنَ بَلَى . قَالَ « فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا »

Bukankah kalau wanita tersebut haidh, dia tidak shalat dan juga tidak menunaikan puasa?” Para wanita menjawab, “Betul.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah kekurangan agama wanita. (HR. Bukhari, No. 304)

Inilah 5 hal yang membuat batal puasa. Selain kelima hal ini, masih banyak penyebab lain yang membatalkan puasa, seperti: diinfus (karena sama seperti minum), gila, dan juga murtad (keluar dari Islam). Dua penyebab terakhir batal puasa tersebut juga merupakan syarat sahnya puasa. Tidak sah puasa dan tidak akan diterima pahala puasa orang yang gila dan murtad.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.