IslamKita
Home » Info Islam » Pentingnya Menuruti Perintah Pemimpin Ketika ada Wabah

Pentingnya Menuruti Perintah Pemimpin Ketika ada Wabah

Sepenting apa kita menuruti perintah pemimpin ketika ada wabah penyakit menular ? Masa pandemi global yang diakibatkan oleh COVID-19 berhasil membuat seluruh dunia panik kelabakan. Berbagai negara mengambil keputusan yang terhitung ekstrim untuk meminimalisir korban terinfeksi. Indonesia pun tak luput dari kebijakan ekstrim ini, salah satu diantaranya adalah PSBB yang diberlakukan di beberapa kota besar Indonesia.

Wabah Saat Masa Khilafah

Tentu, ini bukan pertama kalinya dunia dilanda pandemi seperti ini. Di masa khilafah pun sempat terjadi, tepatnya di masa Khalifah Umar. Alkisah, Khalifah Umar sedang mengadakan perjalanan menuju negeri Syam. Di tengah perjalanan, beliau mendapat kabar bahwa Syam sedang ditimpa wabah penyakit menular.

Apa yang beliau lakukan? Abdurrahman bin Auf yang saat itu ikut menemani Khalifah Umar kemudian mengingat sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam:

“Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid)

Bersandar pada sabda tersebut, sang Khalifah akhirnya tidak jadi melanjutkan perjalanan dan berbalik arah.

Khalifah Umar kemudian mengirimkan surat kepada sahabat Amru bin ‘Ash yang berisi perintah agar masyarakat mengosongkan seantero kota dan segera berpencar ke gunung-gunung dan lembah-lembah, dan memisahkan diri dari satu sama lain. Dengan kata lain, Khalifah Umar telah menerapkan kebijakan physical distancing atau jaga jarak satu sama lain. Berkat kebijakan ini, wabah akhirnya bisa berakhir beberapa hari kemudian.

Pemimpin Kairo Saat Wabah di Abad Ke-14

Beberapa abad setelahnya, tepatnya di pertengahan abad ke-14, rakyat Kairo dan sekitarnya dilanda kepanikan. Wabah pes yang diakibatkan oleh tikus dan bermula dari Eropa akhirnya menyebar di seantero negeri. Menurut sejarah, pandemi ini adalah pandemi terburuk sepanjang masa, merenggut nyawa setengah populasi Eropa saat itu.

Al Makrizi mencatat bagaimana Kairo segera berubah menjadi “kota mati” karena orang-orang takut keluar rumah. Jalanan-jalanan yang dulunya ramai aktivitas menjadi sepi. Setiap hari banyak diadakan upacara pemakaman sehingga suara ratap tangis orang-orang yang kehilangan keluarganya memenuhi hari-hari warga kota. Begitu banyaknya upacara penguburan sehingga jalan menuju pemakaman selalu penuh dan seringkali mengakibatkan para pembawa keranda saling bertabrakan satu sama lain karena banyak yang memakamkan anggota keluarganya di waktu yang sama.

menuruti perintah pemimpin saat wabah corona

Selama wabah berlangsung, Al Makrizi juga mencatat bagaimana respons cepat pemimpin-pemimpin negeri untuk membatasi kegiatan publik. Kegiatan ibadah pun tak luput dari pembatasan ini; masjid ditutup dan masyarakat dihimbau untuk beribadah di rumah masing-masing saja.

Di sebelah Kairo, rakyat Damaskus juga tidak terhindar dari pandemi tersebut. Mengutip kesaksian Ibnu Katsir, pemimpin kota memerintahkan rakyat berpuasa selama tiga hari dan mengadakan doa lintas agama setiap Jumat. Uniknya, doa bersama ini tetap diadakan di masjid. Jadi, umat Islam, Yahudi, Kristen dan lainnya berkumpul bersama pemimpin mereka untuk memohon perlindungan Allah SWT.

Ibnu Katsir, yang saat itu tinggal di Damaskus, menyatakan peristiwa itu dalam kesaksian pribadinya di tarikh Al-Bidayah wan Nihayah yang termashyur itu sebagai sebuah “hari bersejarah” (yawm masshud) ketika seluruh golongan penduduk kota, tidak hanya yang berbeda agama melainkan juga status sosial, berkumpul di masjid sepanjang malam hingga tiba waktu fajar.

Satu hal lain yang menarik adalah adanya partisipasi kaum Yahudi. Padahal saat itu orang-orang Eropa sering menjadikan orang Yahudi sebagai kambing hitam penyebab meluasnya wabah. Namun, pemimpin-pemimpin Islam justru merangkul umat Yahudi dalam satu wadah kemanusiaan karena paham bahwa penyakit tidak mempedulikan siapa kita dan dari mana kita berasal.

Pentingnya Menuruti Perintah Pemimpin saat Wabah

Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa tuntunan Rasulullah bagi kita dalam menghadapi wabah sudah jelas. Masyarakat Islam zaman dahulu bisa melewati wabah karena menuruti perintah pemimpinnya sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Khalifah Umar dan pemimpin lainnya yang telah disebut di atas.

anjuran menuruti perintah pemimpin saat wabah

Mereka menaati perintah tidak keluar rumah kecuali untuk kepentingan mendesak, beribadah di rumah, tidak keluar dari daerah wabah, dan sesegera mungkin menguburkan jenazah sembari terus berdoa kepada Allah. Saat itu tidak ada kegiatan melayat karena ia dapat membahayakan yang sehat sebagaimana sabda Rasulullah lagi:

“Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat.”

Maka, dalam keadaan wabah yang sekarang melanda kita, tetap berdiam di rumah sembari memohon pertolongan Allah sudah seharusnya kita lakoni. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengganjar pahala orang yang sabar melewati wabah seperti pahala orang syahid. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam:

“Wabah penyakit adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah menakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.” (H.R. Bukhari, No. 3474)

Semoga ibadah yang kita lakukan dengan berdiam diri di rumah sembari bertawakal dan bersabar mendapat balasan sebaik-baiknya dari Allah.

IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.