IslamKita
Home » Belajar Islam » 8 Golongan Orang yang Wajib Menerima Zakat, Siapa Saja ?

8 Golongan Orang yang Wajib Menerima Zakat, Siapa Saja ?

Zakat merupakan salah satu kewajiban umat muslim. Zakat adalah sebagian harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh umat muslim dan diberikan kepada golongan orang yang wajib menerimanya. Zakat juga adalah salah satu rukun islam. Kewajiban zakat harus segera ditunaikan oleh orang-orang yang sudah memenuhi syaratnya. Setelah ditunaikan, zakat bisa diberikan kepada 8 golongan orang yang menerima zakat.

orang yang menerima zakat

Orang yang Menerima Zakat Menurut Al Quran

Sebelumnya, IslamKita pernah membahas pengertian zakat. Menurut Al Quran, ada 8 golongan orang yang wajib menerima zakat, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’Ala berikut ini:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. At-Taubah: 60)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa para ulama berselisih pendapat tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat, apakah wajib menyerahkan zakat ke semua golongan tersebut atau boleh diserahkan kepada sebagian golongan saja ? Dalam masalah ini ada dua pendapat:

  • Imam Asy Syafi’i dan beberapa ulama menyatakan zakat harus diserahkan ke semua golongan
  • Pendapat kedua dari Imam Malik dan beberapa orang dari kaum Salaf dan khalaf, di antara mereka ‘Umar, Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aliyah, Sa’id bin Zubair dan Maimun bin Mihran, berkata bahwa tujuan penyebutan golongan-golongan dalam ayat tersebut adalah untuk menerangkan tentang golongan yang berhak menerima zakat, bukan untuk menjelaskan kewajiban membagi zakat ke semua golongan tersebut. Jadi mengenai pembagian boleh dibagi ke salah satu golongan saja.

Golongan Orang yang Menerima Zakat

Berikut ini adalah 8 golongan yang berkah menerima zakat berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalil Al Quran tersebut juga kemudian dipertegas oleh hadits yang berkaitan dengan 8 golongan penerima zakat tersebut:

1. Orang Fakir Menerima Zakat

Orang fakir adalah golongan orang yang tidak mampu bekerja dikarenakan kondisi fisiknya tidak memungkinkan sehingga ia tidak bisa mendapat penghasilan untuk biaya hidupnya. Orang fakir adalah orang yang benar-benar miskin dan tidak sanggup untuk bekerja kembali. Zakat tidak sah diberikan kepada orang kaya dan orang miskin yang secara fisik masih mampu (punya kekuatan) untuk bekerja.

orang yang wajib menerima zakat

2. Orang Miskin Wajib Menerima Zakat

Golongan orang berhak menerima zakat selanjutnya adalah orang miskin. Yang dimaksud miskin di sini adalah orang yang memiliki pekerjaan namun pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ditambah lagi, orang miskin yang dimaksud adalah orang yang tidak pernah mengemis atau meminta-minta kepada orang lain.

لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ بِهَذَا الطَّوَافِ الَّذِي يَطُوْفُ عَلَى النَّاسِ, فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ, وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ, قَالُوْا فَمَا الْمِسْكِيْنُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلَّذِي لاَيَجِدُ غِنًى يُغْنِيْهِ, وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ, وَلاَ يَسْأَلُ النَّاسَ.

Bukanlah termasuk orang miskin mereka yang keliling meminta-minta kepada manusia, kemudian hanya dengan sesuap atau dua suap makanan dan satu atau dua buah kurma ia kembali pulang.” Para Sahabat bertanya, “Kalau begitu siapakah yang dikatakan sebagai orang miskin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai sesuatu yang bisa mencukupi kebutuhannya. Namun tidak ada yang mengetahui keadaannya sehingga ada yang mau memberinya sedekah dan ia juga tidak meminta-minta kepada manusia. (HR. Muslim, No. 1039)

3. Amil Zakat (Panitia Zakat)

Petugas yang mengumpulkan dan menarik zakat berhak menerima sejumlah harta zakat sebagai ganjaran atas hasil kerja keras mereka. Zakat haram dibagikan kepada keluarga dan juga keturunan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَتَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلاَ ِلآلِ مُحَمَّدٍ, إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ.

Sesungguhnya zakat itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad, karena ia sebenarnya adalah kotoran manusia. (HR. Muslim, No. 1072)

4. Muallaf (Orang-Orang Yang Baru Masuk Islam)

Zakat bisa diberikan kepada saudara kita para mualaf yang baru saja masuk islam. Zakat tersebut bisa mereka gunakan agar bisa dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu dan keimanannya dalam memeluk agama islam. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika perang Hunain, beliau memberikan 100 ekor unta kepada sekelompok pemuka kaum ath-Thulaqa’ (orang-orang kafir Quraisy yang tidak diperangi di saat penaklukan Makkah), kemudian beliau bersabda:

إِنِّي َلأُعْطِيَ الرَّجُلَ، وَغَيْرَهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ, خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ.

Sesungguhnya aku memberi (harta) pada seseorang, padahal yang lainnya lebih aku cintai daripadanya, hanya saja aku takut Allah akan memasukkannya ke dalam Neraka. (HR. Bukhari, No. 27)

Di antara golongan ini ada yang diberikan zakat dengan maksud agar orang-orang yang seperti mereka ikut masuk Islam. Juga ada yang diberikan zakat supaya nantinya bisa mengumpulkan harta zakat dari orang-orang muslimin dan mencegah terjadinya gangguan kepada kaum muslimin.

5. Budak (Hamba Sahaya)

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa yang dimaksud dengan budak adalah al-Mukatab (budak yang telah mengadakan perjanjian dengan tuannya untuk membayar sejumlah uang sebagai tebusan atas dirinya). Uang zakat bisa digunakan sebagai uang tebusan untuk memerdekakan budak. Diriwayatkan oleh at-Tir-midzi dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنِ اعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ اللهُ مِنْهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ النَّارِ حَتَّى يَعْتِقَ فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ.

Barangsiapa yang memerdekakan seorang budak yang beriman niscaya Allah akan memerdekakan dengannya (anggota badan budak) setiap anggota badan orang yang memerdekakannya dari api Neraka sampai kemaluannya dengan kemaluannya. (Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir, No. 6051)

6. Orang yang Berhutang

Ada beberapa jenis orang berhutang yang bisa menerima zakat, yaitu pertama orang yang memiliki hutang dan ia telah menggunakan seluruh hartanya untuk melunasi hutang tersebut sampai hartanya habis. Kedua orang yang tidak bisa melunasi hutangnya karena tidak mampu secara ekonomi.

golongan yang wajib menerima zakat

Ketiga adalah orang yang berhutang akibat merugi karena kemaksiatannya kemudian ia bertaubat dan tidak mengulanginya lagi.

يَا قَبِيْصَةُ , إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَتَحِلُّ إِلاَّ ِلأَحَدِ ثَلاَثَةٍ: رَجُلٌ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِِكَ, وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اِجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ, حَتَّى يُصِيْبَ قِوَاماً مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ, وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ, فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ, حَتَّى يُصِيْبَ قِوَاماً مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ, فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبيْصَةُ ! سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.

Wahai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah satu dari tiga orang, yaitu orang yang menanggung hutang orang lain, maka ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian ia berhenti meminta-minta, orang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup atau beliau berkata, sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, dan orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sampai tiga orang dari kaumnya yang berpengetahuan (alim) berkata, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup.’ Ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup atau beliau berkata: Sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Adapun selain tiga golongan tersebut, wahai Qabishah, maka haram hukumnya dan mereka yang memakannya adalah memakan makanan yang haram.’ (Shahiih Muslim (II/722, no. 1044))

7. Orang yang Berjuang Di Jalan Allah (Fii Sabilillaah)

Golongan ini adalah mereka yang merupakan pasukan perang dan tidak punya hak dari baitul mal. Imam Ahmad, al-Hasan dan Ishaq mengatakan bahwa orang yang berhaji juga termasuk dalam fii sabilillaah.

8. Ibnu Sabil (Musafir)

Golongan penerima zakat yang terkahir adalah musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan. Orang ini sedang berada di suatu negeri dan kehabisan bekal perjalanan. Golongan ini berhak menerima zakat secukupnya yang bisa digunakan untuk pulang ke tempat asalnya atau melanjutkan berpergian. Walaupun dia memiliki sedikit harta, zakat bisa diberikan secukupnya untuk menambah bekal pulang dan pergi sang musafir.

Perintah Memberi Zakat dalam Al Quran dan Hadits

Zakat termasuk dalam satu rukun islam, oleh karena itu wajib dijalankan oleh seluruh umat muslim di dunia. Dalil mengenai perintah zakat ini tertulis dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut ini:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (QS. Al-Baqarah: 43)

Perintah zakat juga ada di dalam ayat lainnya, yaitu:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah: 103)

Selain itu, Rasulullah juga bersabda mengenai perintah zakat di haditsnya berikut ini:

ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِى أَمْوَالِهِمْ ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaati itu, beritahukanlah pada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menaati itu, beritahukanlah pada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat yang wajib dari harta mereka diambil dari orang kaya di antara mereka dan disalurkan pada orang miskin di tengah-tengah mereka. (HR. Bukhari, No. 1395)

Hukum Orang yang Tidak Memberi Zakat

Orang yang tidak mau menunaikan zakat padahal ia termasuk orang yang wajib dan mampu untuk membayarnya, maka ia adalah orang fasik dan akan mendapatkan siksa yang pedih di neraka. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (QS. At-Taubah: 34)

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 35)

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.