IslamKita
Home » Belajar Islam » Panduan Qurban & Ketentuan Pelaksanaannya saat Idul Adha

Panduan Qurban & Ketentuan Pelaksanaannya saat Idul Adha

Kali ini IslamKita akan berbagi informasi mengenai panduan qurban secara ringkas. Pembahasan qurban akan dimulai dari pengertian qurban, hukum qurban, waktu berkurban, cara melaksanakannya, dan lainnya. Semoga dengan informasi singkat ini bisa menambah pengetahuan kamu semua. Aamiin.

panduan qurban lengkap

Pengertian Qurban

Secara bahasa qurban bisa berarti “udhiyah.” Menurut istilah syar’i kata udhiyah memiliki pengertian sesuatu yang disembelih pada hari raya Qurban. Kata qurban juga berasal dari bahasa Arab yaitu “Qariba” yang artinya juga mendekatkan. Maksud dari kata qariba berarti kurban bertujuan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Qurban adalah ritual ibadah yang dilaksanakan umat muslim setiap tanggal 10 hingga 13 Dzulhijah. Pada hari raya tersebut, umat Islam yang mampu menyembelih hewan kurban, seperti: unta, sapi, dan kambing atau domba. Hewan kurban yang disembelih secara khusus dipersembahkan kepada Allah. Daging dari hewan kurban tersebut kemudian dibagikan ke kerabat, tetangga, dan fakir miskin.

Hukum Qurban

Panduan qurban yang pertama adalah mengenai hukum Qurban. Hukum menyembelih hewan kurban saat Idul Adha adalah sunnah Muakkad atau sunnah yang ditekankan. Ibadah ini hanya dianjurkan untuk dikerjakan oleh orang yang mampu. Dalil dari hukum berkurban ada di dalam Al Quran, yaitu pada ayat,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al Hajj: 34)

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (QS. Al-Kautsar: 2)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menegaskan mengenai hukum qurban pada haditsnya, yaitu:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rizki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah No. 3123)

Tujuan dan Manfaat Qurban

Tujuan kurban yang utama adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menyembelih hewan kurban dibutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Apalagi mengingat harga hewan kurban yang tidak murah. Menyumbangkan daging kurban adalah salah satu bentuk nyata ketakwaan kepada tuhan.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj: 37)

Manfaat kurban adalah untuk bersedekah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganjurkan kita bersedekah untuk mensucikan harta. Maksud dari mensucikan di sini adalah memberikan hak orang tidak mampu yang ada di dalam harta kita. Mensucikan harta adalah kewajiban, dan niscaya Allah akan mengganti harta yang dikeluarkan dengan yang lebih baik dan banyak.

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Manfaat berkurban adalah dapat membantu banyak orang, mulai dari orang tidak mampu hingga peternak hewan lokal. Bersedekah sudah menjadi salah satu perintah Allah di dalam Al Quran. Dengan bersedekah, harta yang kita dapatkan akan dipenuhi berkah. Keberkahan inilah yang membuat harta kita akan semakin bertambah dan bermanfaat.

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu. (HR. Al-Bukhari No. 1433)

Waktu Penyembelihan Hewan Kurban

Panduan Qurban selanjutnya adalah tentang kapan kita bisa menyembelih kurban. Waktu menyembelih hewan kurban yang benar adalah setelah shalat id. Disarankan untuk menyembelih hewan saat waktu dhuha. Dalilnya ada dalam hadits yaitu,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ ، وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan manasiknya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari No. 5546)

Lalu bagaimana jika terlanjur memotong hewan kurban sebelum shalat Id ? Jawabannya adalah kurbannya akan dianggap sedekah biasa. Jika masih ingin mengejar pahala qurban, maka disarankan untuk membeli dan memotong kembali hewan kurban setelah shalat Id.

عَنْ جُنْدَبٍ أَنَّهُ شَهِدَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ النَّحْرِ صَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ « مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى ، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ »

Dari Jundab, ia menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau berkhutbah dan bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat ‘ied, hendaklah ia mengulanginya. Dan yang belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan menyebut ‘bismillah’.” (HR. Bukhari No. 7400)

Jenis dan Kondisi Hewan Kurban

Ada 3 jenis hewan kurban yang diperbolehkan, yaitu unta, sapi, dan kambing atau domba. Selain daripada itu akan dianggap tidak sah. Hewan yang dikurbankan harus memenuhi kriteria yang sah dan sesuai syari’at Islam. Yang paling pertama, uang untuk membeli hewan kurban haruslah dari yang halal. Tidak diperbolehkan dari hasil utang atau mencuri, merampok, dan lain sebagainya.

panduan qurban lengkap

Berikut ini panduan qurban mengenai kriteria hewan yang sesuai syari’at:

  1. Jumlah Hewan Kurban. Untuk sapi dan unta boleh dijadikan kurban untuk 7 orang. Namun untuk kambing hanya boleh untuk 1 orang. Pahala hewan kurban boleh diniatkan untuk satu keluarga
  2. Usia hewan kurban yang sesuai dengan sunnah. Unta berusia 5 tahun, Sapi berusia 2 tahun, kambing berusia 1 tahun, dan domba berusia 6 bulan. Ini adalah usia minimalyang boleh dijadikan kurban
  3. Kondisi hewan kurban baik dan bebas cacat. Kriteria hewan kurban yang baik dan sesuai sunnah adalah tidak memiliki cacat pada tubuhnya
  4. Hewan qurban dalam kondisi sehat. Ciri hewan kurban yang baik untuk disembelih di Idul Adha adalah tidak sakit, tidak gila, tidak hamil, atau tidak memiliki penyakit tertentu yang dapat merusak kualitas daging dalam tubuhnya
  5. Tidak ada hak orang lain pada hewan tersebut. Misalnya hewan kurban yang disembelih ternyata adalah hewan gadai atau hewan warisan yang belum dibagi
  6. Warna Hewan Kurban. Untuk kambing atau domba disunnahkan memilih yang warnanya putih bercampur hitam, gemuk, dan memiliki tanduk sempurna (tanduk tidak rusak).

وَعَنِ اَلْبَرَاءِ بنِ عَازِبٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: – “أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي اَلضَّحَايَا: اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوَرُهَا, وَالْمَرِيضَةُ اَلْبَيِّنُ مَرَضُهَا, وَالْعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ظَلْعُهَا  وَالْكَسِيرَةُ اَلَّتِي لَا تُنْقِي” – رَوَاهُ اَلْخَمْسَة ُ . وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان َ

Dari Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di tengah-tengah kami dan berkata, “Ada empat cacat yang tidak dibolehkan pada hewan kurban: (1) buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, (2) sakit dan tampak jelas sakitnya, (3) pincang dan tampak jelas pincangnya, (4) sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang.” (HR. Abu Daud No. 2802)

Doa Saat Menyembelih Hewan Qurban

Saat menyembelih hewan kurban, disunnahkan untuk membaca doa berikut ini setelah membaca basmalah,

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَ إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنْ …..

Bismillah Wallahu Akbar, Allahumma minka wa ilaika, Fataqabbal min … (sebut nama orang yang berkurban)

Artinya: Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, Ya Allah, qurban ini dari-Mu dan untuk-Mu, terimalah qurban…(sebut nama orang yang berkurban)

Cara Penyembelihan Hewan Kurban

Berikut ini panduan qurban tentang ketentuan dan tata cara penyembelihan hewan kurban yang sah:

  1. Hewan kurban masih hidup saat disembelih
  2. Orang yang menyembelih haruslah, 1) berakal, 2) sudah baligh, 3) bisa laki-laki dan perempuan, 4) orang yang menyembelih harus orang islam atau ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), 5) Disebutkan nama Allah ketika menyembelih
  3. Selajutnya bisa membaca doa saat menyembelih hewan kurban
  4. Menyembelih hewan kurban harus dengan alat yang dari besi yang tajam. Tidak boleh menggunakan tulang dan kuku
  5. Perhatikan adab ketika menyembelih hewan. 1) Baringkan hewan menghadap kiblat, 2) Ucapkan basmalah sebelum menyembelih, 3) Sembelih hewan dengan sekali sayatan atau gorokan
  6. Setelah darah habis, hewan bisa langsung dikuliti dan diambil dagingnya
  7. Setelah itu, daging bisa dibagikan kepada orang yang berhak menerimanya.

Orang yang Berhak Menerima Kurban

Panduan qurban selanjutnya adalah tentang orang yang berhak menerima qurban. Ada 3 orang yang berhak menerima daging hewan kurban, yaitu:

  1. Diri sendiri dan keluarga. Orang yang berkurban boleh menerima daging dari hewan yang dikurbankan
  2. Tetangga dan kerabat. Orang terdekat, keluarga, atau tetangga di sekitar orang yang berkurban berhak untuk menerima daging tersebut. Meskipun tetangga kita kaya atau mampu atau non muslim, mereka berhak mendapat jatah daging kurban
  3. Fakir Miskin. Orang miskin bisa dianggap sebagai orang yang paling berhak untuk menerima daging hewan kurban. Jika kamu merasa tidak membutuhkan daging kurban, lebih baik berikan kepada fakir miskin yang lebih membutuhkan.

Menjual Daging Qurban

Bagi orang yang berkurban, diharamkan untuk menjual daging qurban tersebut. Yang boleh dia lakukan adalah membagi hasil daging qurban kepada orang yang berhak menerimanya. Hewan yang sudah dikurbankan menjadi milik Allah. Sedangkan dalam Al Quran, Allah memerintahkan umatnya untuk memakan daging tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al Hajj: 28)

Dalam haditsnya, Rasulullah juga melarang kita untuk menjual kulit (termasuk daging) hewan qurban. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ

“Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya.” (HR. Al Hakim)

Namun beberapa ulama berpendapat, bagi yang kaya dan berkurban tidak boleh menjual daging qurban. Sedangkan bagi fakir miskin masih diperbolehkan untuk menjualnya. Karena misalnya, fakir miskin tidak punya uang untuk memasak daging qurban tersebut, maka ia boleh menjual atau menukarnya dengan bahan makanan lain yang mudah dikonsumsi.

Niat Berqurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Tidak diperbolehkan meniatkan qurban khusus untuk orang yang sudah meninggal. Misalnya, qurban satu ekor kambing khusus untuk fulan A yang sudah meninggal. Tidak pernah ada riwayat Rasulullah melakukan hal itu. Bahkan beliau tidak pernah berqurban secara khusus kepada istri tercintanya yang sudah meninggal, yaitu Khodijah Radhiyallahu ‘Anha.

Yang diperbolehkan adalah mengikutsertakan keluarga yang sudah meninggal. Jadi misalnya si Fulan A berkurban satu ekor kambing dan meniatkan pahalanya untuk satu keluarganya, termasuk ibu dan ayahnya yang sudah meninggal.

Sebagai tambahan, meniatkan kurban untuk orang yang sudah meninggal diperbolehkan jika itu merupakan nadzar atau wasiat dari si mayit sebelum ia meninggal.

Demikianlah panduan qurban yang singkat dan padat dari IslamKita. Semoga bisa menambah ilmu pengetahuan kamu semua.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.