IslamKita
Home » Tokoh Islam » Sa’ad bin Abi Waqqas: Kisah “Singa Muda” dan Ibunya

Sa’ad bin Abi Waqqas: Kisah “Singa Muda” dan Ibunya

Sa’ad bin Abi Waqqas adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang pertama masuk Islam. Ia berasal dari suku Quraisy dan lahir serta besar di kota Mekah. Perawakannya pendek, kekar, dan memiliki rambut yang lebat. Oleh karena itu, orang-orang sering membandingkannya dengan singa muda. Dia sangat dekat dengan orang tuanya, terutama ibu yang sangat disayanginya.

sa'ad bin abi waqqas

Sa’ad bin Abi Waqqas adalah sepupu dari Aminah binti Wahab  (Ibu Nabi Muhammad). Oleh karena itu, Sa’ad adalah paman Nabi dari pihak ibu. Sa’ad berasal dari bani Zuhrah. Ia juga sering dipanggil dengan nama Sa’ad Zuhrah untuk membedakannya dengan beberapa orang yang memiliki nama depan Sa’ad.

Abu Bakar ra Mendatangi Sa’ad bin Abi Waqqas

Pada suatu hari, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu mendatangi Sa’ad bin Abi Waqqas. Dia bercerita kepada Sa’ad bahwa Muhammad bin Abdullah telah menerima wahyu dan diutus menjadi Rasul. Abu Bakar lalu membawanya menemui Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di salah satu lembah di Mekkah. Sa’ad sangat semangat namun ia juga gugup karena akan bertemu dengan Rasul yang membawa kebenaran agama Tauhid (Islam). Di sisi lain, Rasul juga sangat senang bertemu Sa’ad ditambah lagi saat dia memutuskan menjadi seorang muslim.

Kemarahan Ibu Sa’ad

Meskipun Nabi sangat senang menerima keislaman Sa’ad, namun ibunya Sa’ad ternyata tidak menyukainya. Sa’ad bercerita kepada Rasulullah, “Ketika ibu saya mendengar berita saya masuk Islam, dia menjadi sangat marah. Dia mendatangi saya dan berkata, “Wahai Sa’ad! Agama apa yang telah engkau rangkul ini, yang menjauhkanmu dari agama ayah dan ibumu ?” Setelah itu dia melanjutkan, “Demi tuhan, apakah engkau memilih meninggalkan agama barumu ini atau aku tidak akan mau makan dan minum sampai aku mati. Hatimu akan hancur oleh kesedihan, dan penyesalan akan menghabisimu karena perbuatan yang telah engkau lakukan, dan semua orang akan mencelamu selamanya.”

Mendengar perkataan itu, Sa’ad bin Abi Waqqas menjawab, “Jangan lakukan itu, wahai ibuku. Karena saya tidak akan melepaskan agama ini untuk apapun.”

Mendengar itu, ibunya kembali melanjutkan ancamannya. Selama berhari-hari dia tidak makan dan minum sehingga menjadi kurus dan lemah. Berkali-kali Sa’ad bin Abi Waqqas mendatangi ibunya sambil bertanya apakah ibunya mau makan dan minum, tetapi ibunya terus menolak. Ibunya bersikeras tidak akan makan dan minum sampai meninggal, kecuali Sa’ad mau meninggalkan Islam.

Sa’ad berkata kepada ibunya, “Oh ibuku, meskipun cintaku sangat kuat untukmu, cintaku untuk Allah dan Rasul-Nya lebih kuat. Demi Allah, jika engkau memiliki seribu nyawa dan satu demi satu nyawa pergi, aku tidak akan meninggalkan agamaku untuk apapun.”

sa'ad bin abi waqqas kisah tokoh islam

Mendengar kerasnya hati Sa’ad, ibunya pun mengalah dan akhirnya mau makan dan minum kembali. Kisah ini menceritakan tentang keteguhan hati Sa’ad bin Abi Waqqas dalam menjaga kepercayaannya. Akibat peristiwa ini, Allah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman: 15)

Sa’ad Membela Islam

Pada hari-hari awal berkembangnya Islam, kaum muslim berhati-hati untuk beribadah untuk menghindari konflik dengan kaum Quraisy. Mereka sering pergi keluar bersama dan beribadah bersama di tempat yang tersembunyi. Namun suatu hari, sejumlah orang dari Quraisy melihat mereka lalu menggangu ibadah kaum muslim.

Karena kesal dan tidak bisa menahan emosinya, Sa’ad bin Abi Waqqas memukul salah seorang kaum Quraisy dengan tulang rahang unta. Ini adalah peristiwa konflik pertumpahan darah pertama antara umat Islam dan non Islam. Setelah peristiwa itu, Rasulullah meminta para sahabatnya lebih tenang dan bersabar dalam menghadapi kaum Quraisy. Peristiwa ini kemudian  difirmankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. (QS. Al Muzzamil: 10)

Cukup lama kaum muslim menahan dirinya. Sampai 10 tahun kemudian, mereka baru diizinkan untuk melakukan perlawanan kepada orang-orang yang menindasnya.

Sa’ad bin Abi Waqqas Menjadi Panglima Tinggi

Sa’ad bin Abi Waqqas adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad yang diberkahi dengan kekayaan melimpah. Tidak hanya itu, dia juga dikenal pemberani dan murah hati. Sa’ad pernah diminta oleh Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu untuk memimpin pasukan demi menghadapi Persia di Qadisiyah. Umar ingin mengakhiri kekuasaan Sasan yang selama ratusan tahun menguasai wilayah tersebut.

Perang di Qadisiyah adalah salah satu pertempuran paling penting. Perang itu menyudahi kekaisaran Sasanian, sama seperti perang Yarmuk yang menghilangkan kekuasaan Bizantium Barat. 2 tahun setelahnya, Sa’ad berhasil mengambil alih ibukota Sasan, yaitu Ctesiphon. Karena keberhasilannya, Ia dijuluki sebagai pahlawan Qadisiyah dan penaluk Ctesiphon.

Wafatnya Sa’ad bin Abi Waqqas

Sa’ad bin Abi Waqqas meninggal dunia pada usia 80 tahun. Meskipun dia diberkati kekayaan dan kekuasaan, tapi ketika meninggal dunia, dia meminta putranya untuk membuka sebuah kotak. Di kotak itu terdapat jubah yang terbuat dari wol kasar. Sa’ad berkata: “Selimuti saya dengan ini, karena di jubah ini saya bertemu dengan kamu musyrikin di hari Badar dan saya ingin bertemu dengan Allah yang Maha Kuasa sambil mengenakannya.”

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.