IslamKita
Home » Belajar Islam » Keutamaan Sedekah untuk Saudara atau Kerabat Dekat

Keutamaan Sedekah untuk Saudara atau Kerabat Dekat

Prinsip utama dalam bersedekah adalah memberi kepada orang yang terdekat lebih dulu. Setelah memberi nafkah ke keluarga, sebaiknya kita memperhatikan kondisi saudara atau kerabat dekat. Ini karena sedekah untuk saudara atau kerabat dekat adalah prioritas kedua setelah sedekah ke keluarga sendiri. Di dalam Al Quran, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman bahwa orang yang diberi kelapangan rezeki tidak boleh menelantarkan saudaranya sendiri.

sedekah untuk saudara dekat

Hukum Sedekah untuk Saudara

Dianjurkan untuk orang yang memiliki kelebihan rezeki memberi sedekah kepada kerabat dekatnya. Prioritas memberi sedekah untuk saudara lebih didahulukan dibanding sedekah kepada orang miskin dan orang yang sedang berhijrah. Adapun dalilnya adalah firman Allah Ta’ala pada Al Quran, yaitu.

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS. An Nur: 22)

Sebab Diturunkan Perintah Sedekah ke Kerabat Dekat

Surat An Nur ayat 22 diturunkan Allah setelah peristiwa Aisyah yang difitnah selingkuh oleh Misthah bin Utsatsah. Misthah bin Utsatsah sendiri memiliki hubungan kerabat dekat dengan Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anha. Selain itu, ia juga sering dinafkahi oleh Abu Bakar karena Misthah termasuk saudara dekatnya yang hidup kekurangan. Ketika Abu Bakar mengetahui Misthah adalah pelaku fitnah tersebut, ia kemudian berkata,

“Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.”

Kemudian, Allah menurunkan surat An Nur ayat 22 untuk menegur Abu Bakar. Dalam surat tersebut dikatakan bahwa orang yang memiliki kelebihan tidak boleh bersumpah tidak akan memberi nafkah atau sedekah kepada saudara dekatnya. Setelah Abu Bakar mendengar ayat tersebut dari Rasulullah, kemudian ia berkata

“Baiklah demi Allah sungguh aku suka bila Allah mengampuniku.”

Setelah itu, ia kembali memberi nafkah kepada Misthah dan berkata

“Aku tidak akan berhenti memberinya nafkah untuk selamanya.” 

Hikmah Memberi Sedekah Kepada Saudara Dekat

Dari pelajaran sebab akibatnya diturunkan surat An Nur ayat 22, kita bisa memahami bahwa sedekah untuk saudara atau kerabat dekat adalah prioritas setelah menafkahi keluarga sendiri. Ada beberapa hikmah yang bisa dipetik dari surat tersebut, yaitu:

1. Keutamaan Memberi Sedekah ke Saudara Dekat

Memberi sedekah untuk saudara dekat, seperti paman, bibi, keponakan, atau sepupu masih lebih utama dibanding memberi sedekah kepada orang yang tidak kita kenal. Lebih utama lagi jika kita membantu saudara dekat kita yang miskin. Jika tidak ada saudara dekat yang membutuhkan, kita baru bisa memberi sedekah kepada fakir miskin yang tidak memiliki hubungan keluarga.

sedekah untuk kerabat dekat

2. Tidak Dibolehkan Memutus Tali Silaturahmi

Sumpah Abu Bakar untuk tidak lagi menafkahi Misthah bisa dianggap sebagai upaya memutus tali silaturahmi. Padahal Rasulullah melarang keras umatnya memutus tali silaturahmi ke keluarga atau kerabat dekat. Diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al Anshori, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, Rasul menjawab,

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat). (HR. Bukhari, No. 5983)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah juga menerangkan bahaya dari memutus tali silaturahmi. Diriwayatkan oleh Abu Bakroh, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ
Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya (di dunia ini) -berikut dosa yang disimpan untuknya (di akhirat)- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud, No. 4902)

3. Pentingnya Memaafkan Kesalahan Orang Lain

Hikmah yang bisa diambil dari ayat yang menerangkan keutamaan sedekah untuk saudara atau kerabat dekat adalah bahwa seharusnya kita selalu memaafkan kesalahan orang lain. Janganlah membalas perlakuan buruk orang lain dengan keburukan.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (QS. Fushilat: 34-35)

Memaafkan orang lain bisa jadi penyebab Allah memberi ampunan kepada kita. Selain itu, siapa tahu dengan membalas keburukan dengan kebaikan akan membuat pelakunya jadi bertaubat dan menyadari kesalahannya sendiri.

Admin IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.