IslamKita
Home » Hukum Islam » Hukum Takziah (Melayat) saat Wabah Covid-19. Haruskah ?

Hukum Takziah (Melayat) saat Wabah Covid-19. Haruskah ?

Apa hukum takziah saat wabah ? Takziah atau melayat adalah salah satu ibadah yang mendatangkan kebaikan. Bahkan kita juga dianjurkan melakukan takziah ke makam saudara-saudara non-muslim sebagai bentuk penghormatan Islam terhadap kehidupan manusia.

Rasulullah bersabda kepada orang-orang yang bertakziah:

“Barang siapa yang bertakziah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut.” (HR At-Tirmidzi dan Baihaqi)

Tak hanya itu, takziah dianjurkan untuk menenangkan dan menguatkan hati sanak keluarga dan kerabat yang sedang berduka, sekaligus mendoakan keselamatan jenazah di perjalanan selanjutnya.

Secara hukum Islam, menurut K.H. Abu Bakar Abdul Jalil, takziah kepada orang meninggal dan mengantarkannya hingga ke liang kubur hukumnya sunnah dan fardu kifayah. Meski begitu, pelaksanaannya juga tetap harus melihat situasi dan kondisi jenazah bersangkutan, misalnya jauhnya jarak kediaman jenazah atau adanya bencana dan wabah.

Namun dalam keadaan pandemi COVID-19 seperti sekarang, perlukah kita untuk tetap bertakziah kepada saudara-saudara yang telah meninggal? Apa hukumnya bertakziah dalam keadaan bencana dan gawat darurat?

Hukum Takziah (Melayat) Saat ada Wabah

Dalam kondisi pandemi COVID-19 seperti sekarang, ada baiknya kita tidak memaksakan diri untuk bertakziah karena justru akan mengundang mudharat. K.H. Abdul Jalil menegaskan bahwa tidak jadi masalah dalam Islam apabila kita tidak mampu bertakziah langsung dan mengantarkannya ke pemakaman karena prinsip mencegah mudarat lebih penting ketimbang mengejar maslahat.

takziah saat wabah

Hal ini telah dicontohkan oleh Rasullullah dan pemimpin Islam lainnya ketika sedang ada situasi yang mendesak dan tidak memungkinkan. Alkisah pada suatu waktu, Rasulullah menerima kabar bahwa Raja An-Najasyi yang tinggal di negeri Habasyah (sekarang disebut Ethiopia) telah wafat. Nabi yang saat itu sedang tinggal di Madinah tidak memaksakan dirinya untuk berangkat takziah ke negeri Habasyah yang sangat jauh. Sebagai gantinya, Nabi menggelar sholat gaib di masjid bersama sahabat sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah R.A. :

“Dari Abu Hurairah, R.A. meriwayatkan: Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah menyiarkan informasi kematian Raja An-Najasyi, lalu beliau keluar ke tempat salat bersama para sahabat, beliau membariskan mereka (membentuk saf) dan beliau bertakbir sebanyak empat kali takbir (salat gaib atas kematian Raja al-Najasyi)” (HR al-Bukhari)

Hadits ini menjadi dasar panduan ibadah takziah. Ketika ingin bertakziah, alangkah baiknya kita tetap memperhatikan situasi, jangan sampai apa yang hendak kita lakukan malah mendatangkan mudharat ketimbang manfaat. Bayangkan, apabila Rasulullah dan sahabat tetap bersikeras untuk pergi ke negeri Habasyah untuk bertakziah, tentunya mereka akan menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan perbekalan.

Faktor keamanan selama perjalanan juga menjadi potensi kemudaratan tersendiri. Rasulullah sepenuhnya menyadari hal-hal ini, sehingga beliau cukupkan takziah dengan mensholatkan dan mendoakan Raja An-Najasyi dari jauh.

Hindari Wabah Penyakit Menular Lebih Utama

Contoh lain ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Rahman III yang memerintah wilayah Cordoba (sekarang menjadi bagian Spanyol) di abad ke-10 ketika di wilayahnya terkena wabah penyakit menular. Kala itu, khalifah memerintahkan karantina total di seantero negeri dan melarang rakyat keluar rumah untuk sementara waktu.

hukum takziah saat wabah covid 19

Kegiatan takziah dilakukan terbatas, cukup dengan mendoakan jenazah tanpa harus mendatangi kediaman keluarga yang terkena musibah. Anjuran khalifah Ini sesuai dengan perintah Rasulullah terkait potensi penularan penyakit dari kegiatan takziah di tengah wabah:

“Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Bukhari)

Mengingat pandemi COVID-19 yang sedang kita alami, ada baiknya kita membatasi kegiatan takziah saat wabah dengan mendoakan serta mensholatkan jenazah dari jauh. Kita juga harus menghindari berkumpul dengan banyak orang serta menjaga jarak 2-3 meter untuk menghindadri potensi penularan wabah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang memerintahkan manusia menjauhi jurang kebinasaan, atau dalam hal ini penyakit:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqarah: 195)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala serta sabda Rasulullah tersebut menjadi tuntunan jelas bagi kita dalam melaksanakan ibadah takziah kepada saudara-saudara kita selama wabah. Kita tak perlu memaksakan diri untuk bertandang ke rumah yang bersangkutan. Untuk menyuarakan duka dan menghormati jenazah, kita cukup mengirimkan SMS, telepon, atau bahkan video call dengan keluarga yang berduka. Tak lupa mendoakan serta sholat gaib semampunya dari rumah kita. Ketika kondisi kembali normal, kita bisa melakukan takziah saat wabah seperti syariat.

Untuk saat ini, lebih penting menjaga keselamatan dan kesehatan diri dan orang lain dengan tidak memaksakan melakukan takziah saat wabah. Mari menjaga diri, kebersihan, dan mendoakan saudara-saudara sedunia kita agar wabah ini segera tertangani. Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, amin yarabbalamin.

IslamKita

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.